Tuesday, June 2, 2009

Anchor News Kita dan Nama Orang

Gak sengaja nemu sebuah blog yang memantau dan mengidolakan semua newscaster di stasiun TV Indonesia. Bahkan sampai me-rate dan mem-vote siapa newscaster terbaik.

Ada hal aneh tentang newscaster yang gue temukan.

1. Mereka SELALU ganteng/cantik
Mari kita akui, gue belum pernah ngeliat newscaster yang mukanya jelek kayak mayat ngambang 3 hari.

2. Mereka SELALU pintar

3. Nama mereka SELALU catchy. Tinjau nama-nama di bawah ini:
Tina Talisa
Grace Natalie
Githa Nafeeza
Nane Nindya
Chantal della Concetta
Sandrina Malakiano
Jason Tedjasukmana

Dari sini gue nemu beberapa rumusan dalam hal nama newscaster. Hal yang sama pernah dibikin joke oleh Jon Stewart. Gua gak nyangka aja di Indonesia sama rumusnya:

1. Huruf pertama dari nama depan dan nama belakang, sama. Bukti:
Tina Talisa
Nane Nindya

2. Namanya berima. Bukti:
Tina Talisa
Githa Nafeeza
Nama berima ini punya banyak kegunaan. Nama berima juga sangat berguna dalam industri musik dangdut dan porn star. Jadi jaman krisis gini kalo sampe diphk dari stasiun TV, masih ada lah lapangan kerja.
“Permisi Mas, saya mau audisi newscaster.”
“Baik. Buka bajunya dan nungging di depan.”

3. Namanya, bisa memakai 2 nama depan. Bukti:
Tina Talisa
Grace Natalie
Nane Nindya
Astrid Katherene
Hanya saja gue menemukan ini berlaku hanya untuk perempuan. Maksud gue, gue belum pernah nemu newscaster cowok namanya Budi Bambang.

4. Punya nama belakang atau nama depan yang asing, memberikan obskuritas bahwa elu indo. Bukti:
Chantal della Concetta
Sandrina Malakiano
Jason Tedjasukmana
Catherine Keng
Sumi Yang
Hadijah Al-Jufri
Ziza Hamzah

Beudeuh! keren bener! Kalo mau curang, ini juga bisa.
Bapaknya Jember.
Ibunya Nganjuk.
Anak nya? Riandita Jefferson.
Minggir orang laen!

Jadi bapak-bapak dan ibu-ibu, itu lah tips dan trik ngasih anak nama, agar kelak anaknya bisa masuk TV, gaji gede tapi masih terlihat cantik, pintar dan gak diuber-uber infotainment. Gak perlu namain anaknya yang susah-susah amat. Ntar dia sendiri kesulitan reporting di TV.

Reporter: “Demikian dari Jakarta, Saya, Hendra Kjhlskewwbcnwows, melaporkan.”

Ribet kan?

Ini beberapa contoh proses wawancara newscaster, kalo lu mau tau:

Contoh 1:
pewawancara: namanya siapa mbak?
future anchor: Laura Chaniago
Pewawancara: wah namanya bagus! mbak dari paraguay?f
uture anchor: Nggak mas, saya dari pariaman.

Contoh 2:
pewawancara: namanya siapa mbak?
future anchor: Suzi Suzetta
Pewawancara: wah namanya bagus! IPKnya berapa mbak?
future anchor: 1.4
Pewawancara: ok, saya tulis aja jadi 3.4 ya mbak. Lanjut aja sana ke medical check up.

Contoh 3:
pewawancara: IPKnya berapa mbak?
future anchor: 3.4
pewawancara: bagus. Kalo nama?
future anchor: Laura Dela Concetta
Pewawancara: Wah, asalnya di mana? Spanyol?
Future anchor: Jember
Pewawancara: Gak papa, gak akan ditanya kok. Tolong pipis di botol ini dan lanjut ke medical check up. Gak, gak, pipisnya gak perlu depan saya, makasih.

Contoh 4:
pewawancara: IPKnya berapa mbak?
future anchor: 3.99
pewawancara: bagus. Kalo nama?
future anchor: Marsinah
Pewawancara: Exit sebelah kiri mbak.

There you have it. Cara ngasih nama anak yang bener dan komplikasinya. Sekarang gue cabut dulu dan doa semoga gak ada anchor yang baca postingan ini huahahah.


taked from : Adhitya Mulya

Monday, May 25, 2009

Doa dan Prerogatif Allah SWT

Doa, adalah proses menyandarkan diri pada Khalik Pencipta yang Pengasih. Melemah untuk menjadi “si kuat” karena menyatu ke dalamNya, “Ya Alloh, adalah kewajiban hamba memperjuangkan cita-cita ini. Tapi soal hasil adalah urusan Engkau!”

Dengan itu bebaslah jiwa kita.

Hadis Rasul mengatakan, “Orang-orang yang tidak terikat dan bebas sudah lebih dulu unggul!”. Sahabat kemudian bertanya, jenis manusia seperti gerangan apakah yang bisa seperti itu? Rasul menjawab: “Laki-laki dan perempuan yang tidak henti-hentinya mengingat Alloh!”

Alloh memiliki keberdayaan yang lebih tinggi. Dengan bersandar kepadanya hati menjadi tenang.

Alloh menyapa mereka yang selalu berdzikir mengingatNya baik dalam keadaan :duduk, berdiri atau sedang berbaring dengan panggilan: Wahai Jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya (QS 89:27-30)

Kesungguhan itu penting, tetapi hati kita harus pasrah kepada pengaturanNya. Alloh mengajari kita: Mereka yang berjuang dan bersungguh-sungguh demi Kami, Kami pasti akan menunjukkan mereka ke jalan Kami.


Kewajiban manusialah untuk berusaha keras, soal “hasil” adalah urusan prerogratif Alloh. Prinsip ini harus diteguhkan dan musti bebas dari keadaan “mendua

Begitu pentingnya doa –yang dalam banyak tingkatannya membanjiri gelombang Alpha pada manusia—maka Alloh mengkritik manusia yang malas berdoa begini: Manusia sungguh melampaui batas karena melihat dirinya tiada memerlukan siapa-siapa (QS 96:7).
Padahal masih kata Alloh, “Aku pasti mengabulkan doa hamba-hambaKu apabila dia berdoa kepadaKu(QS 2:186)”.

Maka ingatlah Aku, pasti Aku akan mengingatmu….(QS 2: 152).
Begitu juga doa dalam kaitannya dengan kewajiban kita menyerap ilmu. Ketika Nabi bertanya kepada Jibril tentang ilmu batin, yakni atmosfir jiwa yang penuh gelombang Alpha yang membuat manusia tenang, maka jawab Jibril: Ilmu itu adalah salah satu diantara rahasiaKu. Aku mematrikannya di dalam hati hambaKu dan tak satupun makhluk-Ku yang memahaminya.

Kalau begitu adakah sesuatu lain yang pantas dimintai selain daripadaNya?

Doa, selalu merupakan rangkaian kata positif yang mensugesti jiwa kita.
Seperti Henry Ford Raja Mobil Amerika bilang, “Apa pun yang kamu katakan tentang dirimu, baik itu menyangkut — Aku bisa atau Aku tak bisa—sama saja, akan begitulah kamu menjadi dirimu. Manusia adalah bagaimana dia berpikir tentang dirinya!”

Kita adalah umat Muhammad yang diajari bersikap, “PengabulanMu ya Alloh atas doa-doa kami adalah fungsi dari iman pasrah dan kerja keras kami. Sungguh, tak ada sesuatu pun yang sulit bagiMu. Engkau yang apabila berkata jadi maka: jadilah. Sungguh takkan ada sesuatupun terjadi tanpa seijinMu!”

Tugas kita tinggal sekedar berjuang. Soal hasil hari ini, itu semua merupakan bagian dari rencana besar Alloh ke depan nanti. Aneh sekali kalau manusia mesti menangisi apa yang tak didapatkannya hari ini. Sesungguhnya Alloh lebih tahu apa yang manusia tak mengetahuinya.

Persis seperti sikap pasrah Alpha di atas, pokoknya apa-apa saja yang kita katakan dan pikirkan adalah ramalan yang akan terbukti dengan sendirinya. Para Psikolog besar sepakat dengan ini. Guru Besar Manajemen Petter Drucker bilang begitu. Steven Covey yang terkenal dengan buku: 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif yang menggegerkan masyarakat Amerika, juga yakin begitu.

Dan sebenarnya nun sudah sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, Alloh melalui Rasul Muhammad sudah mengajarkan itu: Sesungguhnya Aku mengikuti prasangka hambaKu.
Interelasi doa dengan keterwujudannya agaknya mirip seperti interelasi antara traffic-ligth dengan manusia. Begitu menyala merah, berhenti. Begitu hijau, jalan.

Manusia merespon pergantian warna-warni itu.

Begitu pula sistem komputer semesta Alloh, dia merespon warna-warni aura yang kita pancarkan karena perasaan, pikiran dan perbuatan kita.

Berfirman Alloh: Aku bersama dengan orang-orang yang berdoa kepadaKu. Aku dekat dengan hambaKu jauh lebih dekat daripada urat lehernya (QS 50:16).


Thanks to Mr Yana

Friday, May 22, 2009

Optimis

Optimisme tidak sama dengan Positive thinking. Optimisme adalah response internal kita terhadap sesuatu keadaan. Optimisme membuat kita menjadi persisten, sanggup menerima kegagalan dan bangkit berjuang lagi, karena kita yakin akan bisa mengatasi kesulitan dan menjadi sukses. Optimisme lebih penting daripada Positive Thinking, karena Optimisme memberikan dorongan bergerak dan mamacu kita bertindak.

Optimisme membuat kita hidup lebih berarti, mau bekerja lebih keras, pantang menyerah, dan berbahagia. Optimisme adalah kemampuan melihat gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Salesman yang optimis akan lebih mampu menjual, olahragawan yang optimis akan lebih sering menang, dan pebisnis yang optimis akan lebih mungkin sukses.

Didalam setiap orang selalu ada diskusi internal, antara saya dan saya, baik secara sadar ataupun bawah sadar.

Ada 3 hal yang menjadi pertimbangan diskusi internal kita dalam kaitannya dengan Optimisme: 3 P (Permanence, Pervasiveness, Personalization).

Kita coba misalkan ada kejadian negatip, mobil yang baru kita beli, ketika kita keluarkan dari garasi, ditabrak sepeda motor. Nah apa pemikiran kita?

Permanence: Apakah “selalu”(permanen) begini atau ini hanya “kebetulan”. Optimis akan berpikir ini hanya kebetulan terjadi pada kehidupan kita karena kita sebenarnya adalah orang yang mujur. Pesimis menganggap dirinya memang selalu sial dalam hidup ini.

Pervasiveness: Apakah ini “universal”(umum) atau “specific” Optimis bilang dirinya sebenarnya secara umum hokki dan ini kasus khusus yang terjadi, sebaliknya pesimis menganggap ya beginilah hidupnya yang selalu penuh kemalangan.

Personalization: Apakah yang menyebabkan ini “external factor” atau “internal factor”, disebut juga “locus of control” (penyebab kejadian). Optimis menganggap ini karena pengendara sepeda motor tidak hati2, pesimis menganggap kesialan ini karena dirinya yang lagi sial.

Nah, dalam kejadian yang sebaliknya, misalkan penjualan toko anda hari ini ternyata 3 kali lipat lebih banyak dari biasanya, pemikiran optimis dan pesimis akan terbalik. Optimis menganggap dia selalu sukses dan ini buktinya, secara universal inilah yang melambangkan kehidupan bisnisnya dan ini terjadi karena dia adalah pekerja keras yang seharusnya sukses. Pesimis akan menganggap ini hal kebetulan saja, dan hanya terjadi sekali sekali saja, dan ini terjadi karena toko2 sebelah kebetulan tutup sehingga orang beli ditokonya.

Setiap orang dilahirkan dengan optimisme tertentu, lingkungan dan latihan yang diterimanya juga membentuk optimismenya dalam menjalani kehidupan.

Bagaimana kita memperbaiki optimisme kita? Mengawasi dan memperbaiki “internal talk” yang terjadi didalam kita dan mengarahkan pada 3P yang lebih optimistik. Ini kunci rahasia Optimisme dan ini dapat kita latih.

Lain kali, ketika anda mendadak terkena masalah, awasi apa yang dipikirkan dan didiskusikan dalam benak anda, belajar untuk membiasakan berpikir bahwa itu adalah perkecualian dan khusus hanya kejadian itu saja yang sial, karena anda seharusnya adalah orang sukses yang mujur, dan kesialan itu adalah karena faktor luar.

Sebaliknya kalau mendapat pujian atasan dan bonus khusus yang besar, pikirkan itu memang seharusnya selalu terjadi secara berterusan dan merupakan hak anda, sukses anda memang universal, dan hal itu terjadi karena anda yang memang luar biasa.

Kita belajar dan berlatih matematika, bahasa Inggris, badminton dan golf untuk memperbaiki kemampuan kita dalam hal itu. Mengapa kita tidak belajar dan berlatih menjadi lebih Optimis dalam hidup ini, sehingga bisa lebih sukses dan bahagia?

Mari sobat..tetap Optimis !!

Wednesday, May 13, 2009

Mencintai seperti apa adanya

Ada sebuah cerita yang ringan, menarik sekaligus indah. Konon ada seorang cowok yang jatuh cinta pada seorang cewek. Ini biasa. Cowok ganteng jatuh cinta pada cewek cantik.

Cowok ini adalah seorang pendiam. Tidak banyak cakap. Dan dia takut untuk mengungkapkannya. Akhirnya dia memberanikan diri, "Saya cinta kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku?" Untunglah cinta si cowok ini tidak bertepuk sebelah tangan. "Saya juga cinta kamu," jawabnya. Maka keduanya mulai menjadi kekasih.

Suatu waktu si cewek berpikir, "Kenapa ya cowokku mencintai saya ?" Dan dia mulai menanyakannya.

"Saya kenal seorang teman cowok. Dia mencintai ceweknya karena dia bisa menyanyi dengan indah. Suaranya merdu dan enak didengar." Dan dia menambahkan contoh teman lainnya yang jatuh cinta pada ceweknya, karena dia pandai menari. Tangan dan kakinya begitu gemulai ketika dia mulai menari.

"Lalu kenapa kamu mencintaiku ?", tanya si cewek. Si cowok hanya diam saja. Memang dia tidak pandai bicara. Dia hanya bisa mematung sambil memandang mata si cewek. Ditanya berulang-ulang, si cowok tetap membisu.

Si cewek mulai naik pitam. Dia mulai berpikir yang negatif. Jangan-jangan si cowok cuma bohong. Mungkin saja dia tidak jatuh cinta padaku, tebaknya. Maka dia ingin memutuskan hubungan dengan si cowok ini. Tentu saja si cowok keberatan.

Di tengah persoalan ini, dalam perjalanan ke luar kota, tiba-tiba si cewek kehilangan kendali pada mobilnya. Mobilnya selip, dan terjun ke jurang. Sialnya dia tidak pakai seat belt.

Suatu keajaiban meski lukanya cukup parah, dia akhirnya sembuh. Meski harus meninggalkan 2 cacat. Yang satu kakinya pincang. Jalannya jadi tertaih-tatih. Dan yang kedua, dia menjadi bisu. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Yang menarik, si cowok tetap sabar dan baik hati menunggui ceweknya.

Dan dia akhirnya berbicara, "Kekasihku, untung aku tidak bilang ke kamu, kalau aku mencintaimu karena suaramu yang indah itu. Dan untung aku juga tidak bilang ke kamu, bahwa aku mencintaimu karena tarianmu yang indah."

"Coba kalau aku menjawab aku mencintaimu karena suara dan tarianmu, padahal sekarang kakimu sudah luka, dan kamu tidak bisa bersuara lagi. Maka aku tidak punya alasan untuk mencintaimu. Alasan apa lagi yang harus aku utarakan, nanti kamu menyangka aku bohong."

"Sebenarnya aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Karena aku memang sadar dan benar-benar mencintaimu seperti apa adanya. Walaupun sekarang kakimu menjadi pincang dan kamu menjadi bisu."

Air mata mengalir membasahi pipi si cewek. Dia sungguh tersentuh. Dan mereka kembali menjadi sepasang kekasih.

Kadang kita tidak dapat lagi mencintai seseorang, atau mencintai sesuatu karena alasan a atau b. Bukan berarti kita tidak punya alasan. Tetapi kita memang mencintai pekerjaan kita, mencintai seseorang secara apa adanya.

Wednesday, April 22, 2009

Highschoolers

To my friends in highschools who are attending national exam today, I sincerely hope all the best to you all. Many will make it, but some of you maybe not. And for you who do not make it, do not stop and give up. Retake it and play the game again. I am never be less proud of you -- for all what you need to do is work on it harder and longer.

And no finger-pointing and blame-game necessary, like some elders seem love to do.

I hope you learn a lot from today's exams, whatever the result might be. Rock on!

for my younger brother ANGGIE, GOOD LUCK yeaaahh

Monday, April 20, 2009

Non-voting does not equal Golput!

I always get irritated when anyone refers to those who do not cast their vote as 'Golput.' Even in the media it is very often we see a passage like "Golput rate reached 30%." You may not like math, but the number cited is the non-voting turnout rate. Non-voting turnout is simply non-voting turnout, which is 100%-turnout rate. Become a Golput is one reason, among many reasons, for not voting. People may have other reasons not to vote; lazy (in academic jargon, the benefit to go to the ballot is smaller than the cost), no candidates matches one's preference, unregistered to vote, unable to be present, and so forth.

Back in the 1970s, Suharto 'simplified' the political system by allowing only 10 parties to compete in 1971, then reduced to three in 1977-99. Golput was an expression that no one, including the government, can take away one's political right. So Golput was a resistance movement against an undemocratic election. Even Prof. Budiman himself admit that the current election is already democratic, hence Golput is no longer relevant. Well, you may choose not to vote because you don't like the candidates for any reasons. But the fact is your not being stripped off your rights.

Of course, no one has the patent or copy rights to the term. So anyone can basically use the word, even if it has already been distorted from the original meaning. At your own risk (of embarassment), you may also claim that all non-voting voters have one interest, which you can represent, and think that all of them will vote for you. Wanna try?

Friday, March 27, 2009

Mengukur Diri dalam Dimensi Waktu

Apa sebenarnya yang paling berharga dalam hidup ini menurut anda? Uang, emas, perhiasan, kedudukan, mobil mewah atau popularitas?

Mungkin sebelum menjawab bisa juga ditambahkan satu buah pertanyaan lagi, yaitu: sumber daya alam apa yang sangat amat terbatas dan tidak dapat diperbaharui, jika sudah berlalu maka tak akan ada proses recycle? Jangankan recycle, substitusi atau penggantian saja tidak mungkin dilakukan! (backsound: tahan dulu jawabannya)

Jika uang hilang atau emas dicuri bisakah kita menemukan lagi atau mungkin mencari penggantinya?

Jika kedudukan dan popularitas adalah komoditas yang sangat dicari dan dikejar oleh sebagian orang, apakah kedua hal tersebut bisa menjamin hidupnya menjadi bahagia dunia dan akhirat?

Sebelum ngelantur kemana-mana tulisan ini, saya hanya ingin sekedar mengingatkan kepada kita pada sebuah pepatah arab, waktu itu bagaikan pedang, bisa jadi kamu mampu menebasnya atau kamu akan ditebas oleh waktu tersebut.

Sesungguhnya waktu itu adalah kehidupan itu sendiri. Orang rela habis-habisan untuk bisa membayar biaya pengobatan agar mampu bertahan hidup. Artinya uang bukanlah sesuatu yang sangat berharga dibandingkan kesehatan. Dan kesehatan sebenarnya adalah syarat kehidupan seseorang (baca: waktu hidup) itu bisa berjalan dengan normal dan baik.

Nah, terjawab kan pertanyaan di atas. :)

Berangkat dari situ, semangat saya tergugah kembali untuk mendalami konsep “Breaking the Time” pak Satria Lubis atau jagoan motifator lainnya terkait manajemen waktu…

Jika kehidupan itu adalah sumber daya yang amat terbatas—sudah pasti akan berakhir—tentu hidup itu adalah sesuatu yang sangat berharga dibanding apapun agar ia bisa dimaknai secara mendalam, menjadi modal kebaikan untuk kita pertanggungjawabkan kepada Sang Pemberi Amanah Waktu tersebut.

24 jam hari ini tidak akan pernah terulang pada hari-hari berikutnya (dengan catatan kita memang masih punya jatah hari-hari berikutnya) Jika malam nanti, misalnya: kita game over, maka sudah stop, taman kreasi kita cukup sampai disitu saja.

Ada seorang ulama yang mengatakan bahwa waktumu tidak akan pernah cukup dibandingkan dengan tugas dan amanahmu. Maka terobosan bagaimana mengoptimalkannya adalah sebuah kunci kesuksesan hidup itu sendiri.

Sebagai seorang muslim, tentu kita bisa memaknai bahwa setiap detik kehidupan adalah dalam rangka menjalankan peran sebagai hamba-Nya. Artinya setiap detik kehidupan tersebut bisa bernilai ibadah dalam aspek spiritual, menjadi sebuah tangga menuju ridho-Nya. (Apapun perannya, dan bentuk aktivitasnya, bahkan ke WC sekalipun).

Namun kali ini—dalam tulisan ini—saya sekedar mencoba mengukur diri (muhasabah) secara matematis parsial terhadap alokasi waktu yang telah saya gunakan dengan mengklasifikasikan segala aktivitas dan peran dalam domain waktu sepekan. Batasan permasalahannya adalah bahwa masing-masing aktivitas kita anggap tegak lurus, tidak saling bersinggungan dan tidak ada korelasi atau hubungan sama sekali. Ini dilakukan agar saya bisa mengukur batas terburuk alokasi waktu pada setiap kategori aktivitas dapat terukur dan bisa dianalisis dengan baik.

Dan hasilnya adalah sebagaimana table di bawah.
Cukup sedih…

Untuk kategori aktivitas yang murni terkait tentang penambahan keilmuan, tsawofah-fikriyah hanya mengambil porsi 5% saja! (artinya dalam 10080 menit dalam sepekan, aktivitas yang dialokasikan pada kegiatan ini berkisar: 480 menit saja). Apa kabar belajar bahasa arab? Apa kabar tentang setumpuk buku yang belum tuntas di baca dan dibuat resume-nya? Apa kabar tentang hapalan Quran dan Hadist, apa kabar tentang penambahan penguasaan di bidang teknologi informasi, dan apa kabar pula tentang penambahan kepahaman terhadap fiqh dan muamalah Islam?? Wow... makin tersudut saja diri ini. :(

Sedangkan untuk aktivitas yang bersifat insani (terkait makan-minum, mandi/MCK, istirahat, rehat, tidur, dan exercise/olahraga) memakan porsi yang paling banyak, yaitu sekitar 31%. Artinya dalam satu pekan mengambil porsi sekitar 3090 menit, atau kurang lebih 8 jam dalam sehari. Normal untuk ukuran orang biasa, namun jika dibanding orang-orang besar dalam sejarah peradaban manusia termasuk tidak normal... terlalu banyak porsinya.

Namun, kadang memang tubuh ini menuntut haknya pula. Dan kita tak mempunyai pilihan lain. Andaikan tubuh ini ada 2 (konfigurasi 1+1 Hot stand by) maka alangkah nikmatnya... saat satu working maka yang lain akan stand by.. (backsound: ngelantur!! Emang perangkat telekomunikasi!! :)

Untuk kegiatan khusus yang bersifat spritual (sholat, tilawah, dzikir dll) memakan jatah sebesar 18% atau setara dengan 1785 menit dalam sepekan.

Untuk waktu khusus bersama keluarga (termasuk bermain dengan anak, bermesraan dan bercanda dengan istri, rekreasi, jalan-jalan, dll) sebesar 19%. Fiuuh,... ini tidak termasuk jika ternyata harus keluar kota atau mendadak harus dinas troubleshooting menangani gangguan jaringan GSM. Bisa lebih tak menentu dan tentu lebih kecil dari itu. Oooh...

Kalau hal ini dirasa kurang, mungkin alokasi untuk tidurnya memang akan dikurangi. Hehehe.. demi anak dan istri-walaupun ngantuk-ngantuk atau capek harus tetap sepenuh hati melayani keriuhan anak-anak bermain... hehehe.

Untuk porsi terbesar kedua adalah aktivitas yang terkait dengan bussiness profesional dalam kuadran: employee.. (backsound: hics.. masih di kuadran ini nih.. belum pindah ke kuadran Investasi, atau bussiness owner) yaa... sementara masih jadi orang gajian alias buruh... hehe

Porsi yang terkait untuk kegiatan soceaty community atau sosial kemasyarakatan ternyata baru memakan porsi 4% saja... hics... atau setara dengan 440 menit dalam sepekan. Dan tentu hanya ada pada 2 hari akhir pekan dengan sedikit mengorbankan waktu berharga bersama keluarga. Kegiatan ini meliputi rapat organisasi, meeting ormas atau LSM, aksi sosial, hingga aksi lainnya.

Bagaimana dengan hubungan dengan tetangga? Nah ini lah PR terbesar yang terbengkalai. 7 hari dalam sepekan ketemu tetangga paling pas mau pergi ke masjid saja… say hello and give the smile… hehehe… sesekali ikut kerja bakti ngebersihin parit dan jalanan saja. Itu pun 2 bulan sekali agendanya…

So… waktu kita ini memang amat sangat terbatas…
Sumber daya yang amat mahal. Tak tergantikan!!
Dan ia tak akan pernah cukup memenuhi kebutuhan, keinginan, harapan dan angan-angan manusia, juga untuk kerja, tanggung jawab, amanah dan tugas kita...

Fiuuuh...
Its just Breaking the time…
Brothers…

Resiko kecil

Resiko hanyalah persoalan persepsi. Resiko itu besarnya ekivalen dg apa yang kita inginkan. Ketika kita bersemangat untuk mencapai tujuan, maka resiko akan terasa kecil. (Paul Hanna)

Monday, March 23, 2009

Merangkul Kesedihan, Cinta melahirkan keajaiban.

Setiap manusia dilahirkan dengan sebuah kelengkapan perasaan, ada suka ada duka, ada sakit ada kenikmatan, ada kecintaan ada kepedihan, ada manis ada pahit, ada kebahagiaan dan ada kesedihan.

Mereka datang sebagai saudara kembar, yang silih berganti menjenguk kita, menemani kita dan membesarkan diri dan jiwa kita.

Cinta melahirkan keajaiban, cinta menciptakan pesawat terbang, menemukan benua Amerika, membuat komputer dan interne. Cinta melahirkan kebesaran dan keagungan. Cinta yang agung salalu menyentuh kita dan menitikkan air mata haru.

Kita harus belajar menikmati kesedihan kita. Kegagalan adalah saudara kembar kesuksesan, tak ada arti tawa bila tangis tidak kita lalui. Lihatlah betapa dekat mereka: Orang yang sangat berbahagia akan menangis dan orang yang sangat sedihpun tertawa hambar. Hidup penuh dengan semua hal itu dan terjadi pada semua orang. Presiden ataupun tukang becak akan sama bahagia dan sedihnya menghadapi keagungan kehidupan ini.

Ketika kita sudah mulai dapat menikmati kesendirian kita tanpa kesepian, merangkul kesedihan kita tanpa menyalahkan, maka secara perlahan kita mampu mengupas duka kita sehelai demi sehelai dan menjadikannya rasa syukur dan suka cita.

Kata Khalil Gibran: Kebahagiaan adalah kesedihan yang telah terbuka kedoknya. Tawa dan tangis berasal dari mata air yang sama.

Ketika kita mengejar sukses dan kebahagiaan, kita akan terperangkap dan terjebak pada hutan liar, kupu2 hanya akan datang sendiri saat kita diam dan termenung menikmati kesedihan kita. Karena ketika ketenangan menjenguk kita, semua akan terlihat lebih terang, tanpa perlu menyilaukan.

Kegelapan dapat menyembunyikan meja, kursi, pohon, batu, gunung, tetapi ia tidak dapat menyembunyikan cinta.

Nikmatilah apapun yang datang dan menjenguk kita. Arti terbesar hidup ini pada akhirnya adalah perjalanan hidup ini sendiri. Tidak ada tujuan akhir, yang ada hanyalah sebuah perjalanan panjang yang harus kita nikmati.

Tidak ada kebencian, tidak ada penyesalan, tidak ada pengurbanan, yang ada hanyalah rasa syukur yang dalam dan cinta tanpa batas waktu.

Sunday, March 22, 2009

Tentang Ikhlas dan yang kita miliki

Yang Indah hanya sementara
Yang Abadi hanyalah kenangan
Yang Ikhlas hanya dari hati
Dan yang tulus hanya ada dari sanubari


Tidak mudah mencari yang hilang
Dan tidak mudah mengejar impian
Namun jauh lebih susah adalah mempertahankan apa yang ada

Karena...

Yang tergenggam bisa terlepas,
dan yang terikat justru membelenggu

Jika kita tidak memiliki yang kita sukai
Maka sukailah apa yang kita miliki.