Tuesday, December 22, 2009

Kita sekarang dan Masa Depan

Salah satu ucapan yang tidak terasa sering kita ungkapkan adalah frase ’tidak terasa, ya’. Sehingga, diakhir pekan kita kerap mengatakan; ”Duh, tidak terasa ya, sudah hari jum’at lagi”. Dan diakhir bulan kita mengatakan;”Tidak terasa ya, kok sudah akhir bulan lagi”. Lalu diakhir tahun, kita bilang; ”Tidak terasa ya, sebentar lagi tahun baru.....” Waktu yang didepan seolah terlihat berat untuk dijalani, ternyata ’tidak terasa’ sudah kita lalui tanpa kendala yang berarti. Sekarang, mari diingat lagi; berapa tahun usia anda saat ini? Bukankah kita telah menjalani tahun demi tahun kehidupan kita itu, nyaris ’tidak terasa’ juga?

Kalau sedang berjalan kaki, saya sering menemukan paku di jalan. Demikian pula halnya ketika tengah bersepeda. Kehadiran paku dijalan menarik perhatian saya. Karena, saya merasa bahwa jalan bukanlah tempat dimana paku seharusnya berada. Pernah suatu kali kepalan tangan saya tidak lagi bisa dimuati oleh apapun karena didalamnya terdapat segenggam penuh paku yang saya punguti di jalan yang saya lintasi. Sehingga saya harus menyediakan wadah khusus untuk menampung paku-paku itu. Dalam hati saya berbisik;’seandainya semua paku di seluruh jalan di negeri kita dipunguti, berapa ton paku yang bisa dikumpulkan?’

Mungkin saya agak berlebihan soal ’berapa ton’ itu, kalau diartikan sebagai satuan berat ’seribu kiloan’. Tapi, kalau ’ton’ dalam pengertian satuan jumlah ’seribuan’, saya yakin ungkapan ’berapa ton’ itu tidak berlebihan. Artinya, ada ribuan buah paku yang berserakan di jalan. Ketika saya membayangkan beribu-ribu paku yang menghadang kita dijalan, saya juga membayangkan; betapa ban kendaraan kita berada pada situasi yang sangat kritis saat melintasi jalan-jalan itu. Karena, setiap kali kita melintas, maka ada peluang ban kendaraan kita tertusuk paku-paku itu. Anehnya, mengapa tidak semua kendaraan yang melintasi jalan itu bannya bocor terkena paku? Bahkan, dalam setahun saya lalu lalang disana, belum tentu ban kendaraan saya kena paku barang sekalipun. Padahal kita tahu, disana banyak paku berserakan.

Mengingat itu, hati saya sering menjadi lebih terhibur. Mengapa? Karena, seperti jalanan yang berpaku disana-sini itu; kadang-kadang saya melihat jalan hidup ini juga sedemikian beresikonya untuk dilalui. Resiko kehilangan pekerjaan, resiko ditolak oleh pelanggan, resiko dilecehkan teman, resiko disepelekan atasan, resiko tidak memperoleh pendapatan yang sepadan, resiko kebangkrutan, resiko ini, dan resiko itu. Rasanya, kita tidak perlu memungkiri bahwa semua kemungkinan itu sering membuat hati kita ciut. Namun, membayangkan bahwa setiap hari kendaraan kita melintasi jalan yang berpaku; maka setiap hari kita berpeluang untuk mengalami bocor ban di jalan. Anehnya, kita tidak setiap hari mengalami bocor ban.

Menerima fakta itu membantu hati saya untuk menyadari bahwa; meskipun setiap hari kita melintasi jalan kehidupan yang penuh resiko, tapi ternyata kita tidak selamanya mengalami kejadian ’semengerikan’ itu. Mari kita tengok kebelakang barang sejenak. Lima tahun yang lalu, misalnya, kita tidak bisa membayangkan bagaimana caranya menjalani kehidupan selama lima tahun kedepan. Namun, kenyataannya adalah; kita sudah menjalani waktu lima tahun terakhir ini hingga saat ini, dengan ’tanpa terasa’. Hebatnya lagi, ternyata kita baik-baik saja.

Sekarang, mari kita berdiri disebuah titik yang kita sebut sebagai ’saat ini’, lalu memandang jauh kemasa depan. Apakah kita merasakan kegalauan itu? Kita galau karena tidak ada kepastian akan masa depan kita. Tetapi, mari kita tengok beberapa tahun lalu ke belakang ketika kita merasakan kegalauan yang sama. Kita bisa sampai di titik ini, dengan selamat. Oleh karena itu, meski saat ini kita didera galau yang sama ketika memandang masa depan; semoga kita masih memiliki kekuatan untuk meyakini bahwa kita akan berhasil melewati masa depan itu seperti halnya kita telah berhasil melampaui masa lalu kita.

Ngomong-ngomong, menurut pendapat anda; mengapa ban mobil kita jarang bocor meskipun setiap hari melintasi jalan yang berpaku? Mungkinkah itu karena Tuhan melindungi agar ban mobil kita tidak terlampau sering terkena paku? Kalau begitu, menurut pendapat anda; mengapa hidup kita jarang bahkan tidak pernah mengalami peristiwa mengerikan, meskipun setiap saat kita melintasi jalan hidup yang berpeluang untuk mengalami peristiwa-peristiwa mengerikan? Mungkinkah itu karena Tuhan tiada henti-hentinya menjaga diri kita agar tidak mengalami hal-hal mengerikan yang melampaui batas kemampuan kita?

Lebih dari itu, Tuhan telah menjagakan kita agar tidak semua peluang tak menyenangkan itu benar-benar menjadi kenyataan. Memang, kita menghadapi begitu banyak peluang buruk yang tidak kita sukai. Namun, Tuhan telah menebarkan peluang baik jauh lebih banyak dari hal-hal buruk yang mungkin menimpa diri kita. Dan itu cukup untuk membuktikan bahwa sebenarnya Tuhan berpihak kepada kita. Sebab, ketika Dia memberi peluang baik lebih banyak dari peluang buruk, maka sesungguhnya Dia ingin agar kita berkesempatan untuk mendapatkan peluang baik itu.

Jika sampai sekarang hidup kita baik-baik saja; tidak berarti bahwa kita tidak pernah mengalami cobaan, bukan? Kita mengalami banyak cobaan, namun sejauh ini semua cobaan itu masih dalam batas-batas kemampuan kita. Ini cocok dengan penjelasan guru ngaji saya bahwa; ”Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada seseorang, melainkan dalam batas kemampuan dirinya.”

Peluang buruk itu seperti paku yang berserakan dijalan. Jika kita memilih untuk memarkir kendaraan dirumah karena khawatir bannya akan kempes tertusuk paku yang berserakan; maka kita tidak akan pergi kemana-mana. Sebaliknya, jika kita bersedia mengambil resiko itu, maka kita akan mengeluarkan kendaraan dari garasi. Lalu kita melintasi jalan yang seharusnya kita lalui. Meskipun itu berarti bahwa kita menghadapi resiko ban bocor. Namun, kenyataannya ban kita tidak terlampau sering bocor. Bahkan, sekalipun kita melintasi jalan berpaku setiap hari.

Barangkali, jalan hidup kita juga memang demikian. Meskipun banyak resiko yang kita hadapi saat melintasinya; namun, tampaknya kita akan baik-baik saja saat menjalaninya setiap hari. Sehingga, memilih untuk menyingsingkan lengan baju lalu bangkit berdiri, kemudian melangkah menjalani hidup ini; adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada menyerah dan berdiam diri. Sebab, saat kita menyerah; kita melewatkan beribu kesempatan dan kemungkinan untuk memperoleh anugerah yang kita sendiri tidak pernah tahu sebesar apa. Sebaliknya, saat kita berserah diri kepada keberpihakan Tuhan terhadap kesuksesan kita, lalu kita memohon ijin kepada-Nya untuk berikhtiar; maka kita memiliki harapan untuk berhasil melintasi perjalanan hidup ini dengan baik. Dan, tanpa terasa; kita bisa tiba diakhir perjalanan yang telah Tuhan tentukan untuk kita. Lalu saat itu kita boleh kerkata; ”Tuhan, telah kutunaikan seluruh panggilan-Mu. Dengan segala kurang dan lebihku. Dan kini,
ijinkan aku untuk menyerahkan penilaian akhir kepada-Mu....”

Mari Berbagi Semangat!

Thanks to Pak DK

Thursday, December 17, 2009

Motivasi Intrinsik

Di antara bentuk keterampilan jiwa sang juara sejati adalah menyadari sumber motivasi yang sangat kuat serta menjadi modal utama baginya dalam mencipta keajaiban. Motivasi internal/intrinsik, demikian para pakar motivasi menamai jenis motivasi yang relatif permanen ini. Sebagian lain menamainya dengan motivasi diri (self motivation).

Motivasi diri merupakan energi dari dalam diri sang juara yang mengarahkan tingkah lakunya. Ia hadir dengan didasari kesadaran yang menyeluruh atas eksistensi diri dan tujuan hidup untuk menjadi manusia yang bermakna lebih dari adanya. Para komikus menamai manusia yang bermakna lebih dari adanya ini dengan istilah “Superman”, Nietzsche menyebutnya “Uebermensch” (manusia unggul), para ulama menyebutnya “Insan Kamil” (manusia sempurna), dan Saya ingin menyebutnya “Sang Juara”.

Motivasi jenis ini relatif permanen dan kuat karena sumbernya dari dalam diri: ‘Aku’-lah penentunya, dan ‘Aku’-lah pelakunya, maka motivasi ini menjadi bagian inheren dalam diri ‘Aku’ sehinggat teramat sulit untuk dilepaskan. Ia terus bertumbuh dan berkembang dalam ‘Aku’. Ia pun tak pernah henti untuk memicu dan memacu ‘Aku’ untuk senantiasa menoreh sejarah kesuksesan sang juara sejati.

Motivasi diri memiliki dua bagian: mental dan fisik. Secara mental, sang juara mengimajinasikan kemana dia ingin pergi. Dan secara fisik, sang juara mengambil tindakan untuk menuju ke sana. Pikiran dan tindakan memiliki tingkat urgensitas yang sama bagi Sang juara sejati dalam membangun kesuksesan hidupnya.

Orang yang termotivasi oleh dirinya sendiri menyertai kata benda dengan kata kerja: ia menentukan sasaran-sasarannya (kata benda) dan bertindak mencapainya (kata kerja). Demikian memo motivasional bagi Sang juara sejati.

Bertanyalah kepada Sang juara sejati! Niscaya dia memiliki kejelasan sasaran-sasaran yang ingin dicapai dan senantiasa dalam keadaan bertindak untuk mencapai keberhasilannya. Tidak lama setelah dia mencapai sasarannya, ia akan menetapkan sasaran-sasaran yang lebih tinggi guna meningkatkan kesuksesan yang dia capai (QS94:7).

“Motivasi diri merupakan suatu kunci menuju kesuksesan. Saya menyebutnya ‘The Miracle of Motivation’ (keajaiban motivasi)!” Demikian George Shinn menjelaskan hubungan antara motivasi diri dengan kesuksesan. Dia juga menjelaskan hubungannya dengan iman: “Saya yakin bahwa iman adalah pemotivasi utama manusia….!”.

Hal ini senada dengan sabda Rasulullah 15 abad yang lalu, “Al Imanu yashna’ul khawariq!” (Keimanan itu senantiasa melahirkan keajaiban-keajaiban fantastis). Sejarah telah membuktikan para pemilik keimanan mampu melakukan hal-hal yang kalaulah sejarawan tidak mengabadikannya, niscaya kita tidak akan pernah percaya bahwa dunia ini pernah dihuni oleh orang-orang dengan prestasi sehebat itu.

Ternyata, rahim motivasi paling subur yang senantiasa mampu melahirkan keajaiban-keajaiban tersebut bernama keimanan!

Bungkus Palsu

Teman ... copy paste dari e-mail seseorang
Sebuah pelajaran untuk kita, yg kadang masih memandang org dari luarnya saja
Orang berdasi rapi kita hormati, eh ternyata copet Sopir bajaj kita anggap lalu, padahal dia sayang keluarganya & taqwanya kpd Allah melebihi diri kita yg kerja di gedung mentereng.
Dont judge the book by its cover, but READ THE BOOK !! =)

Jessica Chandra adalah anggota baru di sanggar tari. Wanita mungil itu selalu
terlihat lincah dan riang. Gayanya luwes. Senyumnya ramah. Tidak banyak yang
mengetahui usianya sudah berkepala tiga. Sepintas gayanya lebih mirip mahasiswi daripada seorang Ibu beranak satu.

Minggu lalu Jessica terlambat. Dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
Setelah sepeda motor bututnya diparkirkan, dengan langkah tergesa-gesa Jessica langsung menuju meja resepsionis. Masih seperti biasa, senyum lebar selalu menyungging di bibirnya. Lalu dia menyodorkan kartu keanggotaan untuk diabsensi.

Jessica baru menyadari air botol minum di kantong samping ranselnya kosong.
Ternyata dia lupa mengisi ulang botol minumnya karena tergesa-gesa. Jessica
mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Mencari air dispenser. Dalam benaknya, disanggar tari sebesar itu pasti ada air dispenser yang disediakan untuk para member.

Dengan rasa sungkan dan ragu, Jessica bertanya kepada resepsionis apakah ia
boleh meminta botol air minumnya diisi kembali. "Oh, boleh", jawab resepsionis. Dipanggillah seorang pelayan dapur "Maaf, mbak. Saya lupa mengisi air minum, boleh tolong diisikan ?", tanya Jessica. Jessica lalu memberikan botol minum berukuran 500 cc itu kepada pelayan dapur. Pelayan dapur agak ragu menerima botol minum tersebut. Dengan gelisah ia masih berdiri di sana , seakan-akan menunggu persetujuan dari seseorang. Jessica sedikit heran. Keengganan itu terlihat begitu jelas.

Kemudian datanglah seorang wanita paruh baya. Entah siapa dia, tapi Jessica
sering melihatnya di kafe lantai bawah. Mungkin pemilik sanggar tebaknya. Jessica merasa tidak enak dengan tatapan tajam dari mata wanita itu. Pelayan dapur agak gugup menjelaskan maksudku kepada wanita tersebut.

"Mbak ini minta air minum", kata pelayan kepada wanita tua. Wanita tua dengan
sorot tidak bersahabat berkata : "Kenapa tidak beli saja air mineral, dek ?
Kami ada menjualnya di sini".

Jessica menangkap pesan penolakan. Dia tau wanita itu enggan mengisikan air
minumnya. "Oh, gak boleh ya. Kalo gitu gak papa kok".

Senyum Jessica sedikit agak dipaksa. Dia mengambil kembali botol minumnya
dari tangan pelayan dapur dan segera bergegas melangkah ke lantai dua. Meski
sedikit kecewa, Jessica menghibur diri bahwa dia tidak akan mati dehidrasi
saat latihan.

Sementara di lantai bawah, masih terdengar debat kecil antara wanita tua itu dengan resepsionis. Jessica tidak lagi memperdulikan. Dia hanya ingin latihan hari itu segera usai.

***
Hari berikutnya, Jessica masih rutin mengikuti latihan seperti biasanya. Meski ada rasa tidak enak, Jessica tetap santun menundukkan kepalanya sambil tersenyum kepada wanita tua itu ketika menyapanya. Jessica sama sekali tidak pernah menceritakan kejadian itu pada siapapun. Yang pasti sejak itu, Jessica sangat memperhatikan botol air minumnya.

***
Suatu sore, Jessica tidak mengendarai sepeda motor bututnya. Suaminya berjanji akan menjemputnya. Hujan mengguyur deras sekali. Usai latihan, Jessica segera turun. Dia melihat hidangan mie goreng dan nasi goreng di meja. Malam itu adalah perayaan tahun pertama berdirinya sanggar tari.

Wanita tua itu terlihat sibuk melayani para member lainnya. Mengajak mereka makan. Banyak yang menolak halus, mungkin takut gemuk, mungkin juga ingin segera pulang. Jessica pun menolak halus ketika ditawarkan. Makan terburu-buru bukan kebiasaannya. Lagipula, dia tidak ingin suaminya menunggu lama.

Jessica mengecek HPnya. Ternyata sms dari suaminya mengabari terlambat menjemput. Jessica masih berdiri di luar dan menunggu di sana . Tiba-tiba wanita tua itu telah di sampingnya.

"Kamu lagi menunggu seseorang ?" "Iya. Suamiku" "Suami ? Saya pikir kamu masih mahasiswi" Jessica tertawa. "Aku sudah 35 tahun" "Menikah muda ya ?" "28"
Jessica tidak tau pasti apakah umur segitu termasuk menikah muda.
"Bukankah kamu yang biasanya mengendarai sepeda motor ?", tanya lagi wanita
itu. Tentu saja mudah dikenali. Karena Jessica satu-satunya wanita yang
mengendarai sepeda motor ke sanggar. Kebanyakan member yang lain mengendarai
mobil, sebagian lagi didrop oleh supir.

"Iya. Hari ini dijemput suami, jadi aku gak bawa motor".
"Oh, itu dia jemputanku", Jessica menunjuk pada sebuah mobil Mercedes hitam mengkilap seri terbaru yang berhenti pas di tempatnya menunggu.

"Bukankah Itu mobil Bapak Adjie ?", tanya wanita tua penuh rasa
penasaran. "Yah, Mas Adjie adalah suamiku".

Wanita itu terkejut. Tatapannya masih tidak percaya ketika melihat Jessica
melambaikan tangan dan menembus hujan masuk ke dalam mobil.

Mobil itu telah lama berlalu, tapi wanita tua masih berdiri sana , melongo.
Ketika memori membawanya kembali pada kejadian air minum itu, rasa malu
menghantam keras hatinya. Tiba-tiba dunia terasa gelap.

Adjie ! Dia adalah sponsor utama yang selalu mendukung kegiatan sanggar
tarinya. "Oh, tidak".

***
Sahabat, kita sering menganggap diri kita adalah orang baik. Tapi ketika kita
dihadapkan pada bungkus luar dari apa yang mereka pakai, dari kendaraan yang
digunakan, begitu gampangnya sikap hati kita berubah.

Bila "bungkus luar" itu bagus, kita cenderung "mengangkat tinggi-tinggi"
orang tersebut. Sebaliknya bila "bungkus luar" jelek, kita lalu
menjengkalnya, menyepelekan mereka. Senyum kita jadi palsu. Kebaikan hati
kita jadi basa-basi.

Hendaknya di dalam pelayanan, kita juga tidak memandang 'bungkus luar' dari
tiap-tiap orang "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"

Friday, November 20, 2009

Aku Bukan Pilihan by Iwan Fals

Lagu ini sebagai backsound waktu Jalan ke Lampung dulu.



Aku Bukan Pilihan by Iwan Fals


kiniku mengungkapkan
siapakah dirimu
yang mengaku kekasih itu
aku tak bisa memahami...

ketika malam tiba
kurela kau bertanya
dengan siapa kau melewatinya
aku tak bisa memahami...

reff:
aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
ternyata kau mendua membuatku terluka
tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
jangan pernah memilih aku bukan pilihan

selalu terungkap tanya
benarkah kini dirimu
wanita yang kukenal hatinya
aku tak bisa memahami...

(reff)
tak perlu kau memilihku
aku lelaki bukan tuk dipilih

Tuesday, November 17, 2009

Lift kehidupan

Kita semua tentu mengenal lift. Dengan alat itu kita bisa naik atau turun tingkat pada sebuah gedung tinggi. Jika kita ingin naik, tinggal menekan tombol naik; lalu lift membawa badan kita naik. Jika kita ingin turun, tinggal pencet tombol turun; lalu lift itu dengan patuh membawa tubuh kita turun. Secara kasat mata, lift membawa kita naik atau turun. Namun, apakah lift juga bisa membawa ‘diri’ kita menuju ke tingkat yang kita inginkan?

Saya pernah mengunjungi sebuah gedung di SCBD, gedung itu memiliki lift yang unik. Pada kebanyakan gedung bertingkat lain, jika kita ingin menuju ke lantai tertentu, kita cukup menekan tombol up atau down saja. Jika ada orang lain yang sudah menekan tombol itu, maka kita tidak usah bersusah repot lagi untuk menekannya. Istilahnya, kita bisa nebeng kepada usaha orang lain, untuk tiba di tingkat yang kita inginkan. Ketika salah satu pintu lift akan terbuka. Lalu kita memasukinya. Didalam lift itu, barulah kita menekan tombol nomor lantai yang hendak kita tuju. Jika ada orang lain yang sudah menekan ke lantai yang kita ingin tuju, kita boleh berdiam diri saja. Kita sebut saja system seperti ini sebagai lift konvensional.

Di gedung itu tidak bisa begitu. Karena untuk menuju ke lantai tertentu kita harus ‘terlebih dahulu’ menekan nomor lantai yang kita inginkan secara digital ‘diluar lift’. Setelah itu, sistem canggih tersebut memilihkan untuk kita lift mana yang akan membawa kita ke lantai yang kita inginkan. Contohnya, kita menekan angka 1 dan 0 untuk menuju ke lantai 10. Maka sistem itu akan mengarahkan kita kepada lift P, misalnya. Dan itu berarti bahwa kita harus menggunakan lift P untuk bisa sampai ke tempat yang akan dituju.

Ketika pintu lift yang bukan P terbuka, maka kita diam saja. Sekalipun lift itu masih kosong. Sekalipun kita sedang terburu-buru, kita tetap tidak memasukinya. Mengapa? Karena lift itu tidak akan membawa kita ke Lt 10 yang kita tuju. Dan karenanya kita akan tetap fokus kepada lift P. Dan kita hanya akan memasuki lift P, seperti niat kita semula. Ketika pintu lift P terbuka, kita memasukinya tanpa harus menekan apapun lagi. Karena, lift itu akan membawa kita ke lantai 10 yang kita pilih diawal tadi. Saya menyebutnya lift kontemporer.

Lift konvensional versus lift kontemporer. Di lift konvensional, kita boleh saja menyerahkan tujuan hidup kita kepada arus yang diciptakan oleh orang lain. Kita boleh ikut orang lain yang sudah terlebih dahulu menekan tombol. Tidak masalah apakah tujuan orang itu sama dengan tujuan kita atau tidak. Begitu tombol up atau down ditekan oleh orang lain, maka kita tinggal mengikuti arusnya saja.

Di lift kontemporer, kita tidak bisa lagi melakukan hal itu. Artinya, kita tidak bisa mengikuti saja apa yang orang lain lakukan dengan lift itu tanpa tahu tujuannya terlebih dahulu. Kita boleh mengikuti orang itu, hanya jika kita tahu persis bahwa tujuan orang itu adalah lantai yang sama dengan yang ingin kita tuju. Anda tidak boleh mengikuti orang lain jika tujuannya berbeda dengan Anda. Bahkan, Anda pun tidak boleh mengikuti orang lain dan menyerahkan tujuan Anda kepada orang lain yang Anda tidak tahu apakah tujuannya sama dengan Anda atau tidak.

Lift konvensional versus lift kontemporer. Di lift konvensional, kita tidak perlu merencanakan, kemana kita akan pergi. Di lift kontemporer, kita harus merencanakan, kemana kita akan pergi. Sebab, jika kita tidak merencanakan kepergian kita, maka begitu memasuki lift kontemporer ini, kita akan langsung tersesat. Sebab, lift itu tidak membawa kita ke tempat yang ingin kita tuju. Melainkan tempat antah berantah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Jika lantai yang ingin kita tuju itu adalah ‘tujuan hidup’ kita. Dan jika kehidupan kita ini adalah sebuah lift yang akan membawa kita kepada tujuan hidup yang ingin kita capai itu, maka kiranya layak jika kita mengajukan 3 pertanyaan ini:

Pertama, “Apakah kita bisa mengandalkan dan menyandarkan diri kepada orang lain yang belum jelas kemana arah tujuannya?”

Kedua, “Apakah kita bisa memasuki pintu lift peristiwa kehidupan mana saja, yang tidak jelas ke lantai kehidupan mana dia akan menuju?”

Ketiga, “Apakah kita bisa membiarkan diri kita dibawa oleh lift kehidupan itu tanpa harus menentukan terlebih dahulu, lantai dimana tujuan kehidupan kita didefinisikan?”

Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift kehidupan konvensional hingga kita boleh saja menyerahkan seluruh kepentingan hidup dan tujuan hidup kita kepada orang lain yang sudah terlebih dahulu men-set lift itu. Sebab, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga kita harus benar-benar melakukan sendiri, dan menentukan sendiri; tujuan yang ingin kita capai dalam hidup kita.

Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift konvensional hingga kita boleh saja memasuki lift kehidupan manapun yang terbuka lebih dahulu. Sebab, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga kita harus benar-benar fokus, hanya kepada lift kehidupan yang akan membawa kita kepada tempat tujuan yang sudah kita rencanakan saja.

Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift kehidupan konvensional hingga boleh-boleh saja jika kita tidak menekan dan merencanakan tombol tujuan kehidupan sebelum memulai perjalanan ini. Karena didalam lift kehidupan konvensional, ‘akan ada kesempatan’ untuk menekan tombol itu. Nanti didalam lift. Namun, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga untuk bisa sampai kepada tujuan hidup yang kita inginkan; kita harus memulainya dengan merencanakannya terlebih dahulu. Sebab, didalam lift kehidupan kontemporer ‘tidak akan ada lagi kesempatan’ untuk menekan tombol itu. Semuanya serba terlambat. Dan kita akan segera tersesat.

Namun demikian, lift kehidupan konvensional dan lift kehidupan kontemporer memberi kita inspirasi untuk menentukan; kapan saatnya kita boleh mengikuti arus yang dibuat oleh orang lain. Dan kapan saatnya untuk mengandalkan kemampuan diri kita sendiri.

Monday, November 9, 2009

selalu ada jalan pulang

Kadang kita merasa, bahwa diri merasa sangat hina karena sudah terlalu banyak lupa atau terlalu sering lalai. Dan kita merasa tak pantas ‘mendekat’ pada Allah. Padalah sungguh, Allah rindu pada orang-orang yg berpaling. Rindu agar kita kembali pada-Nya.

Allah berfirman, “Andaikan orang-orang yg berpaling dari-Ku mengetahui kerinduan-Ku atas kembalinya mereka dan cinta-Ku akan taubatnya mereka, niscaya mereka akan meleleh karena rindunya mereka kepada-Ku. Wahai Daud, demikianlah cinta-Ku kepada orang-orang yg berpaling, maka bagaimanakah cinta-Ku kepada orang-orang yg datang kepada-Ku?”

Kadang kita merasa, bahwa diri tak pantas lagi meminta sekedar ampunan. Karena sudah terlalu banyak dosa. Padahal Allah sungguh membela manusia di hadapan para Malaikatnya, bahkan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ketika seorang hamba yg berlumuran dosa menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, “Wahai Tuhanku.” Maka malaikat buru-buru menghalangi suara orang itu agar tidak terdengar sampai ke langit. Begitu si hamba mengulanginya, “Wahai Tuhanku,” malaikat kembali menghalangi suaranya. Pada kali ketiga ia meminta, “Wahai Tuhanku,” malaikat tetap menutupi suara itu. Sampai pada panggilan keempat, Allah berfirman,

“Sampai kapan kalian menghalangi suara hamba-Ku untuk sampai kepada-Ku? Aku penuhi panggilanmu wahai hamba-Ku. Aku penuhi panggilanmu wahai hamba-Ku. Aku penuhi panggilanmu wahai hamba-Ku. Aku penuhi panggilanmu wahai hamba-Ku.”

Allah kemudian berfirman, “Wahai anak Adam, aku telah menciptakanmu dengan tangan-Ku, Aku bimbing engkau dgn nikmat-Ku, tetapi engkau menyalahi Aku dan bermaksiat kepada-Ku. Jika engkau kembali kepada-Ku, maka Aku terima taubatmu. Dimanakah engkau bisa mendapatkan Tuhan seperti Aku? Akulah Dzat yg Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah juga berfirman, “Wahai hamba-Ku, Aku telah mengeluarkan kalian dari tidak ada menjadi ada, Aku menciptakan untukmu pendengaran pengelihatan, dan pikiran. Wahai hamba-Ku, aku tutupi aibmu tetapi engkau tidak sedikitpun merasa takut pada-Ku. Aku senantiasa mengingatmu tetapi engkau melupakan-Ku. Aku malu kepadamu tetapi engkau tidak pernah merasa malu kepada-Ku. Siapakah yg lebih besar kasih sayangnya daripada Aku? Siapakah yg pernah datang mengetuk pintu-Ku lalu Aku tidak membukanya? Siapakah yg meminta kepada-Ku yg tidak Aku beri? Apakah aku ini Dzat yg Bakhil sampai hamba-Ku begitu bakhilnya kepada-Ku?”

Allah juga berfirman, “Sungguh, Aku mendapati diri-Ku sangat malu pada hamba-Ku yg mengangkat kedua tangannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku,” lalu Aku menolaknya. Para Malaikat berkata, “Wahai Tuhan kami, dia itu tidak pantas untuk diampuni.” Lalu Allah berfirman, “Tapi aku Maha Pemberi takwa dan Maha Pengampun, karena itu Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni dosa hamba-Ku.”

Ternyata selalu ada jalan pulang kembali kepada-Nya…

Thanks to Mas Yusuf atas pencerahannya

Thursday, October 29, 2009

Jalur Vertikal

Coba kita lihat.. perbedaan antara tanda plus (+) & tanda minus (-), hanyalah 1 garis vertikal saja. seandainya garis vertikal pd tanda plus dihapus maka ia akan jd minus juga.

Maksudnya? nah itu dia. Semua hal di dunia ini ternyata punya potensi negatif, yg menjadikannya positif hanyalah garis ke atas alias jalur keTuhanan. Semakin kita punya jalur ke atas yang kuat, maka prinsip hidup kita jd jelas dan akan mempositifkan banyak hal.

So, vertikal (spiritualitas) itu bukan memisahkan horisontal (hubungan kemanusiaan), tp melengkapinya agar hubungan horisontal senantiasa harmonis dan menguntungkan (win win solution).

Thursday, August 6, 2009

Kanan dulu baru Kiri

Dulu saya pikir otak kanan itu sangat menentukan. Ternyata, setelah saya pelajari dan saya praktekkan sekian lama, akhirnya saya terpaksa mengakui... ternyata... ternyata itu memang benar! Salah satunya, tentang intuisi.

Begini. Mulailah dengan yang kanan (otak kanan). Kemudian? Barulah dijabarkan dengan yang kiri (otak kiri). Saya perjelas. Itu artinya, intuisi atau firasat dulu, baru analisis. Blink dulu, baru think.

Seorang pemimpin bisnis yang ditawarkan suatu lokasi usaha, detik itu juga hatinya membatin, "Hm, sepertinya tempat ini bagus." Yap, intuisinya (otak kanan) yang bekerja. Setelah itu, barulah otak kirinya yang berputar. Data-data pun dikumpulkan, dicermati, dan ditimbang-timbang.

Yap, kanan dulu, baru kiri.
Blink dulu, baru think.
Intuisi dulu, baru analisa.

Nah, masalahnya intuisi itu tidak bisa diwakilkan dan tidak bisa di-outsourcing. Kalau analisa? Yah, bisa. Bisa diwakilkan pada bawahan. Bisa juga di-outsourcing. Nah, makanya asah otak kanan. Right? :)


untuk seseorang yang sedang mengkoreksi cara berpikirku, thankyou banget

Tuesday, June 2, 2009

Anchor News Kita dan Nama Orang

Gak sengaja nemu sebuah blog yang memantau dan mengidolakan semua newscaster di stasiun TV Indonesia. Bahkan sampai me-rate dan mem-vote siapa newscaster terbaik.

Ada hal aneh tentang newscaster yang gue temukan.

1. Mereka SELALU ganteng/cantik
Mari kita akui, gue belum pernah ngeliat newscaster yang mukanya jelek kayak mayat ngambang 3 hari.

2. Mereka SELALU pintar

3. Nama mereka SELALU catchy. Tinjau nama-nama di bawah ini:
Tina Talisa
Grace Natalie
Githa Nafeeza
Nane Nindya
Chantal della Concetta
Sandrina Malakiano
Jason Tedjasukmana

Dari sini gue nemu beberapa rumusan dalam hal nama newscaster. Hal yang sama pernah dibikin joke oleh Jon Stewart. Gua gak nyangka aja di Indonesia sama rumusnya:

1. Huruf pertama dari nama depan dan nama belakang, sama. Bukti:
Tina Talisa
Nane Nindya

2. Namanya berima. Bukti:
Tina Talisa
Githa Nafeeza
Nama berima ini punya banyak kegunaan. Nama berima juga sangat berguna dalam industri musik dangdut dan porn star. Jadi jaman krisis gini kalo sampe diphk dari stasiun TV, masih ada lah lapangan kerja.
“Permisi Mas, saya mau audisi newscaster.”
“Baik. Buka bajunya dan nungging di depan.”

3. Namanya, bisa memakai 2 nama depan. Bukti:
Tina Talisa
Grace Natalie
Nane Nindya
Astrid Katherene
Hanya saja gue menemukan ini berlaku hanya untuk perempuan. Maksud gue, gue belum pernah nemu newscaster cowok namanya Budi Bambang.

4. Punya nama belakang atau nama depan yang asing, memberikan obskuritas bahwa elu indo. Bukti:
Chantal della Concetta
Sandrina Malakiano
Jason Tedjasukmana
Catherine Keng
Sumi Yang
Hadijah Al-Jufri
Ziza Hamzah

Beudeuh! keren bener! Kalo mau curang, ini juga bisa.
Bapaknya Jember.
Ibunya Nganjuk.
Anak nya? Riandita Jefferson.
Minggir orang laen!

Jadi bapak-bapak dan ibu-ibu, itu lah tips dan trik ngasih anak nama, agar kelak anaknya bisa masuk TV, gaji gede tapi masih terlihat cantik, pintar dan gak diuber-uber infotainment. Gak perlu namain anaknya yang susah-susah amat. Ntar dia sendiri kesulitan reporting di TV.

Reporter: “Demikian dari Jakarta, Saya, Hendra Kjhlskewwbcnwows, melaporkan.”

Ribet kan?

Ini beberapa contoh proses wawancara newscaster, kalo lu mau tau:

Contoh 1:
pewawancara: namanya siapa mbak?
future anchor: Laura Chaniago
Pewawancara: wah namanya bagus! mbak dari paraguay?f
uture anchor: Nggak mas, saya dari pariaman.

Contoh 2:
pewawancara: namanya siapa mbak?
future anchor: Suzi Suzetta
Pewawancara: wah namanya bagus! IPKnya berapa mbak?
future anchor: 1.4
Pewawancara: ok, saya tulis aja jadi 3.4 ya mbak. Lanjut aja sana ke medical check up.

Contoh 3:
pewawancara: IPKnya berapa mbak?
future anchor: 3.4
pewawancara: bagus. Kalo nama?
future anchor: Laura Dela Concetta
Pewawancara: Wah, asalnya di mana? Spanyol?
Future anchor: Jember
Pewawancara: Gak papa, gak akan ditanya kok. Tolong pipis di botol ini dan lanjut ke medical check up. Gak, gak, pipisnya gak perlu depan saya, makasih.

Contoh 4:
pewawancara: IPKnya berapa mbak?
future anchor: 3.99
pewawancara: bagus. Kalo nama?
future anchor: Marsinah
Pewawancara: Exit sebelah kiri mbak.

There you have it. Cara ngasih nama anak yang bener dan komplikasinya. Sekarang gue cabut dulu dan doa semoga gak ada anchor yang baca postingan ini huahahah.


taked from : Adhitya Mulya

Monday, May 25, 2009

Doa dan Prerogatif Allah SWT

Doa, adalah proses menyandarkan diri pada Khalik Pencipta yang Pengasih. Melemah untuk menjadi “si kuat” karena menyatu ke dalamNya, “Ya Alloh, adalah kewajiban hamba memperjuangkan cita-cita ini. Tapi soal hasil adalah urusan Engkau!”

Dengan itu bebaslah jiwa kita.

Hadis Rasul mengatakan, “Orang-orang yang tidak terikat dan bebas sudah lebih dulu unggul!”. Sahabat kemudian bertanya, jenis manusia seperti gerangan apakah yang bisa seperti itu? Rasul menjawab: “Laki-laki dan perempuan yang tidak henti-hentinya mengingat Alloh!”

Alloh memiliki keberdayaan yang lebih tinggi. Dengan bersandar kepadanya hati menjadi tenang.

Alloh menyapa mereka yang selalu berdzikir mengingatNya baik dalam keadaan :duduk, berdiri atau sedang berbaring dengan panggilan: Wahai Jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya (QS 89:27-30)

Kesungguhan itu penting, tetapi hati kita harus pasrah kepada pengaturanNya. Alloh mengajari kita: Mereka yang berjuang dan bersungguh-sungguh demi Kami, Kami pasti akan menunjukkan mereka ke jalan Kami.


Kewajiban manusialah untuk berusaha keras, soal “hasil” adalah urusan prerogratif Alloh. Prinsip ini harus diteguhkan dan musti bebas dari keadaan “mendua

Begitu pentingnya doa –yang dalam banyak tingkatannya membanjiri gelombang Alpha pada manusia—maka Alloh mengkritik manusia yang malas berdoa begini: Manusia sungguh melampaui batas karena melihat dirinya tiada memerlukan siapa-siapa (QS 96:7).
Padahal masih kata Alloh, “Aku pasti mengabulkan doa hamba-hambaKu apabila dia berdoa kepadaKu(QS 2:186)”.

Maka ingatlah Aku, pasti Aku akan mengingatmu….(QS 2: 152).
Begitu juga doa dalam kaitannya dengan kewajiban kita menyerap ilmu. Ketika Nabi bertanya kepada Jibril tentang ilmu batin, yakni atmosfir jiwa yang penuh gelombang Alpha yang membuat manusia tenang, maka jawab Jibril: Ilmu itu adalah salah satu diantara rahasiaKu. Aku mematrikannya di dalam hati hambaKu dan tak satupun makhluk-Ku yang memahaminya.

Kalau begitu adakah sesuatu lain yang pantas dimintai selain daripadaNya?

Doa, selalu merupakan rangkaian kata positif yang mensugesti jiwa kita.
Seperti Henry Ford Raja Mobil Amerika bilang, “Apa pun yang kamu katakan tentang dirimu, baik itu menyangkut — Aku bisa atau Aku tak bisa—sama saja, akan begitulah kamu menjadi dirimu. Manusia adalah bagaimana dia berpikir tentang dirinya!”

Kita adalah umat Muhammad yang diajari bersikap, “PengabulanMu ya Alloh atas doa-doa kami adalah fungsi dari iman pasrah dan kerja keras kami. Sungguh, tak ada sesuatu pun yang sulit bagiMu. Engkau yang apabila berkata jadi maka: jadilah. Sungguh takkan ada sesuatupun terjadi tanpa seijinMu!”

Tugas kita tinggal sekedar berjuang. Soal hasil hari ini, itu semua merupakan bagian dari rencana besar Alloh ke depan nanti. Aneh sekali kalau manusia mesti menangisi apa yang tak didapatkannya hari ini. Sesungguhnya Alloh lebih tahu apa yang manusia tak mengetahuinya.

Persis seperti sikap pasrah Alpha di atas, pokoknya apa-apa saja yang kita katakan dan pikirkan adalah ramalan yang akan terbukti dengan sendirinya. Para Psikolog besar sepakat dengan ini. Guru Besar Manajemen Petter Drucker bilang begitu. Steven Covey yang terkenal dengan buku: 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif yang menggegerkan masyarakat Amerika, juga yakin begitu.

Dan sebenarnya nun sudah sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, Alloh melalui Rasul Muhammad sudah mengajarkan itu: Sesungguhnya Aku mengikuti prasangka hambaKu.
Interelasi doa dengan keterwujudannya agaknya mirip seperti interelasi antara traffic-ligth dengan manusia. Begitu menyala merah, berhenti. Begitu hijau, jalan.

Manusia merespon pergantian warna-warni itu.

Begitu pula sistem komputer semesta Alloh, dia merespon warna-warni aura yang kita pancarkan karena perasaan, pikiran dan perbuatan kita.

Berfirman Alloh: Aku bersama dengan orang-orang yang berdoa kepadaKu. Aku dekat dengan hambaKu jauh lebih dekat daripada urat lehernya (QS 50:16).


Thanks to Mr Yana