Monday, February 25, 2008

yang tertinggal di 2007

Beberapa tulisan-tulisan yang ditulis pada tahun 2007, yang belum sempat di posting.
Diantaranya adalah :

Tanggapan saya tentang buku Asma Nadia “ catatan hati seorang Istri”
Islam baru dilirik ketika ada masalah.
Islam seakan hanya berfungsi di awal dan di akhir pernikahan


Akad nikah selalu digelar dengan prosesi islami, setelah itu, masihkah aturan islam yang dipilih untuk menjalani kehidupan rumah tangga ?

Kalau kita perhatikan, hampir tak terhitung jumlah pasangan yang mengikrarkan janji setia di masjid, bahkan beberapa pasangan artis malah di Baitullah.

Sayangnya itu semua hanya tampak indah ketika di awal.

Hingga pada detik ini, banyak sekali terungkap masalah-masalah rumah tangga seperti perselingkuhan, perceraian, hingga KDRT yang dilakukan masing-masing pasangan. Yah, begitulah kalau rumah tangga tidak dibangun berdasar landasan Islam.

Memahami bahwa pernikahan adalah jalan untuk menerjemahkan hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari, memang membutuhkan kesadaran. Menikah bukan sekedar berdasar suka sama suka, atau hanya untuk mengikuti tren ketika orang-orang di sekeliling sudah menikah, atao malah cuman untuk memenuhi kebutuhan biologis, wahh….kalo itu ya jangan.

Bila kesadaran ini sudah sama-sama dimiliki, tentunya hal-hal yang tidak diinginkan tidak bakal terjadi.

Kembali lagi ke masalah rumah tangga islami

Kita menginginkan sebuah rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah, namun sudahkah proses kita menuju hal tersebut benar ?

Membangun rumah tangga bisa diibaratkan seperti halnya kita membangun rumah, jika pondasi dan struktur bangunannya tidak tepat akankah rumah itu kokoh sampai berpuluh-puluh tahun ?

Kembali ke keadaan muda-mudi jaman sekarang, misalnya, kita menginginkan sebuah rumah tangga yang sakinah tadi, tapi jalan kita, proses kita membangun adalah dengan Pacaran, tidak sesuai dengan Islam, padahal yang sesuai dengan Islam adalah Ta’aruf. Pertanyaannya, Akankah rumah tangga itu bisa berjalan diatas rel islam ?? sedangkan proses awalnya saja sudah tidak sesuai.

Kalo dalam mengerjakan soal matematika dulu Wong cara ataupun rumus awalnya saja sudah salah, masak to proses dan hasil akhirnya akan benar ?? Oh..kalo saya nyontek temen, jadi awalnya salah tapi hasil akhirnya tepat…Tak lempar sandal bakiak saja sampean kalo ngomong gitu….

Dalam buku Catatan Hati seorang Istri tulisan Asma Nadia, disitu dituliskan beberapa kaum perempuan yang mendapatkan cobaan-cobaan yang sungguh di luar dugaan manusia.

Tulisan Mba Asma Nadia, memang menyuguhkan istri-istri tangguh dalam menghadapai badai rumah tangga, salut saya buat mereka itu. Dan suami-suami yang mengalami puber kedua. Konon menurut yang saya denger adalah di usia 40 an tahun, akan terjadi revolusi. Bahkan ada yang bilang laki-laki yang berumur 40 itu ada tiga kemungkinan, ganti agama, ganti pekerjaan dan ganti istri. Hehehe.

Kembali lagi ke studio, Misalnya saja ada cerita seorang istri yang telah menikah selama belasan tahun, dan selama itu pula sang suami begitu setia terhadap istri dan kelurganya, namun tiba-tiba ada dalam diri suami hadir seorang wanita yang telah berhubungan dengan dengan suami selama 3 tahun, dengan berbagai kemesraannya. Sang istri baru tahu setelah 3 tahun, bagaimana ini bisa terjadi ??

Okey, mari kita lihat beberapa model laki-laki yang menurut saya ada kemungkinan berbuat seperti cerita-cerita mba Asma tadi. Tidak, saya tidak akan menjelaskan semuanya, namun mari kita lihat contoh dari kisah Ibu Safitri diatas,

’suami adalah tipe lelaki serius,pendiam dan sangat dewasa’.
Yah, itulah kalo orang jadi pendiem, tidak tahu apa-apa tentang dunia luar selain dunia yang dia tahu, begitu dapat melihat dunia luar itu dia mau mencicipi, kira-kira seperti itulah. Banyak sekali orang-orang yang pendiem, tapi tiba-tiba berubah setelah sesuatu hal dan perubahan itu tidak disangka-sangka,

Contoh lagi dalam kisah Amini dalam ‘saya ingin dia memilih’ disitu diceritakan bahwa suami nya yang sangat baik, rumahan, dan telah berkeluarga selama 17 tahun, namun tiba-tiba suatu hari ada gambar dan sms yang sangat mesra dari wanita lain.
Menurut saya ini tipe laki-laki yang tidak jauh dari contoh terdahulu.

Ada lagi tipe pria yang sok alim, dari luaran dia keliatan alim sekali, mungkin banyak wanita yang terpesona dengannya, tapi begitu disuguhkan gemerlapnya dunia, dia terpana, dan larut dalam kebiasaan baru. Tipe ini sekarang banyak sekali merajalela, seperti yang saya temui di tempat-tempat hang out di Jakarta, sering saya berpikir dalam hati munafik sekali orang-orang itu.

Ahhh,..jadi ngelantur,
Menurut saya, tidak semua suami seperti itu,InsyaAllah.

Kembali lagi ke masalah rumah tangga islami.
Badai dan tantangan dalam hidup rumah tangga itu pasti ada, itu tergantung kita gimana menyikapinya, kita harus dengan bijak dalam setiap tindakan. Memang semua manusia mempunyai kesalahan, namun jangan sampai lah kesalahan itu berkaitan dengan hati dan cinta yang lain. Jika sudah berjanji, jika sudah terikat dengan akad nikah, harusnya telah di jadikan tonggak bahwa rumah tangga perlu dimanajemeni juga, dan suami istri menjadi CEO-CEOnya. Jadi harus kompak. Kuncinya adalah TRUST dan saling terbuka, terus terang apapun masalahnya.

Memilih menerapkan tuntunan islam pra nikah dan pasca akad nikah adalah memang bukan pilihan populer. Banyak orang meragukan bahkan menolak mentah-mentah. Memilih islam berarti juga memaksa diri tunduk pada peraturan Allah dan rasulnya

Namun memilih Islam berarti memilih panduan cerdas, agar pernikahan tak hanya indah ketika di awal, tapi juga ketenangan dan kedamaian sepanjang perjalanan kehidupan dimana masalah dan badai datang menghadang.

Bagiku, hanya ada satu istri, yang kucintai sepenuh hati. Bahwa istri adalah partner hidup, tidak ada yang lain, InsyaAllah.

Mungkin lagu Dewa ‘ tak kan ada cinta yang lain’ tepat untuk menggambarkannya.




Baca buku Asma Nadia “ catatan hati seorang Istri” atas rekomendasi seseorang,- sahabat saya, Kiky Maharani. Thnx yah..



Jatibening, 22-23 agustus 07

Saturday, February 23, 2008

dalil mafioso #1#

dalil mafioso #1#


semuanya butuh kejujuran,
ingat itu kunci utama, tidak peduli siapa kamu.

percayalah kepada orang 100%
tapi jangan pernah kau percaya lagi apapun itu jika dia melanggar apa yang telah kau percayakan

jangan pernah terbalik, kebanyakan orang terbalik menerapkannya.

bertemanlah dengan musuhmu (competitor)
tapi jangan pernah kau dekati orang-orang yang pernah mengkhianatimu

competitor suatu saat bisa jadi teman
tapi pengkhianat wataknya memang demikian, akan selalu begitu. lihat saja.

bersikap keras lah terhadap lingkungan sekitar
kalo tidak maka lingkungan sekitar yang akan keras terhadapmu

(quotation ini sudah umum)

seorang diktator dan pendobrak itu sangat perlu
memang tidak selamanya, namun tetap dibutuhkan.

tentang manajemen waktu

jadwalkan tugas-tugasmu
delegasikan tugas-tugasmu
dan
delegasikan lebih banyak lagi



tentang teman & keluarga

ingat, teman tidak pernah sama pentingnya dengan keluarga
Jangan mengacaukan loyalitas persahabatan dengan pertalian darah
Teman dan sahabat bisa dibeli dengan bermacam-macam uang logam.
Keluarga itu abadi sampai akhir hayat.


tidak ada sahabat sejati sebelum dimantapkan dengan cubitan



::: mafioso merupakan label di setiap akhir tulisan saya, yang tercipta sekitar mei, tahun 2001 di wisma catlya, kukusan, depok, pengupdate an dari mafia yang sebelumnya telah di gunakan sahabat (tua) saya, mafioso lebih pas menurut saya daripada kata lain yang sejenis, seperti La Cosa Nostra, The Syndicate, The Mob, The Outfit, dll.

memang, mafioso identik dengan sebuah kekuatan illegal dan mengendalikan kekuasaan, namun mafioso yang ini tercipta karena kadangkala kata-kata singkat (dalil-dalil) yang terucap ngawur, namun penuh dengan makna. buktikan saja :::

Friday, February 15, 2008

Setiap Ahad pagi

Masjid An Nur,JatiBening Permai, Ahad pagi dalam gerimis.

Sang Ustadz menjelaskan tentang hidup. Seperti hari-hari biasa, di setiap tempat dalam acara kuliah / ceramah / kajian dhuha, yang datang juga itu-itu saja. Bapak-Bapak dan Ibu-ibu yang telah berusia 50 keatas, usia 40 hanya bisa dihitung dengan jari. Yang Muda ? kok yang sering terlihat secara fisik, yang katanya pemuda/pemudi yang muslimin sejati, yang katanya syar’I, yang katanya berjalan diatas bumi sesuai ajaran agama, apalagi yang sering aktif di partai-partai berlabel Islam itu, fiuuhhh….sejauh yang saya tahu, di beberapa masjid yang sering saya hadiri untuk ceramah dhuha (Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng,- Masjid At Tin,Komplek TMII,- Masjid Al Azhar Jakapermai, Masjid Al Jabbar,Jt Bening Estate,- Masjid AL Iman, Jt Bening,- ) kok nggak pernah menemukan.

Heran aja,…Mungkin sibuk,
Yah, pagi itu lagi-lagi saya diantara sekian orang yang paling muda, (walaupun bermutu, itu saya syukuri). Pak Ustadz H.Sulaeman, menjelaskan tentang Hidup. Hidup itu hanya terdiri dari dua macam perbuatan. Ibadah dan Maksiat.
Ibadah didasarkan pada Islam, Landasannya adalah Iman, mendapatkan Iman karena Hidayah dari Allah dan hasil dari kesemuanya itu adalah Taqwa.

Sedangkan Maksiat didasarkan pada Jahiliyah, landasannya pembangkangan atau kufur, mendapatkan nya karena nafsu dari syaithan dan hasilnya adalah Kafir.

Yang menarik dari penjelasan Pak ustadz ini adalah tentang tindakan kita sebagai manusia, Tindakan kita pasti ada Ibadah dan campur maksiat, Dari kadar hidup kita 100%, Mungkin kita Ibadah 90%, maksiat 10%, dan seterusnya sampai pada kadar 50%-50%. Kebanyakan kita melakukan hal-hal seperti ini. Kebanyakan dari kita melakukan ibadah lebih banyak prosentasenya dibanding maksiat, ini yang dinamakan Grey Area kata beliau.

Di Indonesia ini kebanyakan seperti ini, Iman tapi tetep maksiat. Karena ini merupakan daerah aman tadi. Dan ini tetep dinamakan Maksiat. Astagfirullah,

Kalo sempat mari kita buka AlQur’an An Nisa ayat 150, disitu disebutkan “Kami beriman kepada Allah dan sebagian yang lain, dan dengan perkataan itu bermaksud untuk mengambil jalan tengah diantara yang demikian (iman atau kafir).

Dalam aplikasi sehari-hari sangat banyak menurut saya yang saya sendiri langgar. Artinya bukan terus kita menyembah selain Allah, bukan. Tapi praktek kehidupan yang kita tidak sesuai dengan syariat Islam, tidak sesuai dengan Dienul Islam, itu sudah termasuk mengambil jalan tengah.

Misalnya dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih mementingkan kebutuhan sekunder, makan di resto atau kafe rame-rame tanpa manfaat dan nggak ingat dengan kelaparannya orang yang ditimpa bencana alam, beli ini itu yang kurang urgent daripada seedekah kepada anak yatim, kita membiarkan adzan dhuhur di hari ahad berkumandang sedangkan kita lagi nanggung bersih-bersih mobil, ataupun mengucapkan guyon Gong Xi Fa Cai juga melanggar ternyata, alasannya karena memberi sarana untuk syirik.

Kita di bumi Indonesia banyak berbuat maksiat. Berbagai kenyataanya telah terjadi, bencana alam ada di mana-mana,satu belum selesai sudah disusul bencana berikutnya. Wallahualam.

Terus seperti apa idealnya ? Sesuai Firman Allah dalam Al A’raaf ayat 96, jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.
Cukup sederhana.

Jelas sekali kalo kita mau berinstropeksi diri, Bencana alam ada dimana-mana, banjir, tanah longsor, Bencana Tsunami di Aceh belum tuntas, disusul Bencana Gempa di Bantul, serta bencana-bencana “kecil” lainnya.

Orang-orang Indonesia juga dihina dimana-mana, Di Malaysia, Di Singapura, Di Aussie, Di Timur Tengah, Mungkin anda yang sekarang berada di Uni Eropa atau di United States, bilang “kami disini dihormati”, ya…itu kelas yang seperti panjenengan kan tidak banyak hanya sepersekian prosen dibanding dengan tenaga-tenaga kerja itu.
Yah, seperti itulah potret orang-orang bangsa kita, bermaksiat tapi tidak mau dibilang maksiat. Orang-orang yang sok alim namun berbuat lebih tidak Islami daripada orang awam kebanyakan.

Untuk itulah wahai saudara, janganlah sejuta alasan sibuk menjadikan kita tidak dekat dengan Nya, janganlah alasan kesibukaan duniawi itu pula kita tidak menyempatkan hadir menimba Ilmu agama, sedangkan Allah, Maha Pengatur segala sampai detil saja tidak pernah melupakan kita, menampung doa 3 miliar manusia dan segala makhluknya,

Sedangkan kita ? Masihkah disibukkan dengan hal duniawi di setiap ahad pagi ?

Jangan buat Allah cemburu……

Thursday, February 14, 2008

Kebahagiaan Internal

Kapan ya.. kita merasa bahagia?
Apakah ketika memperoleh hadiah? Terima Gaji? Dapat Bonus? Dapet Project dengan profit Gede? Mendapatkan ucapan selamat? Atau...
Semua itu bisa menjadikan kita bahagia karena ada stimulus dari luar yang membuat kita dapat memenuhi kebutuhan.

Tapi, bagaimana ceritanya ketika semua yang datang kepada kita itu habis? Hilang? Lenyap atau tidak lagi menjadi milik kita? Sudah tentu bila sumber kebahagiaan tersebut tidak ada maka yang muncul adalah ketidakbahagiaan. Dengan sendirinya kita harus mengejar kembali sesuatu yang dapat membuat kita bahagia tadi. Apakah ini model kebahagiaan yang salah?

Tidak juga, tapi kalau Kita merasa bahagia karena sesuatu yang datang dari luar, maka siap-siap saja untuk kecewa karena sesuatu yang datangnya dari luar tidak abadi sifatnya. Ironisnya model kebahagiaan seperti ini nyaris diyakini oleh 80 persen orang kebanyakan yang hidup di dunia ini.

Lantas, apakah ada model kebahagiaan yang lain?
Ada dan ini sifatnya abadi. Model kebahagiaan kedua adalah kebahagiaan "internal".

Kebahagiaan ini datangnya dari dalam diri kita dan bukan dari luar diri kita. Tapi, bagaimana caranya kita memiliki model kebahagiaan seperti ini? Sepertinya susah untuk merealisasikannya. Lagi pula, kebanyakan orang bisa merasakan kebahagiaan apabila mencapai sesuatu dan mengejar hal lain bila sesuatu itu sudah tercapai. Kita bisa mencapai kebahagiaan internal dan kabar gembiranya, bila kita memiliki kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal bisa tercapai. Sementara, bila hanya mencapai kebahagiaan eksternal, maka kebahagiaan internal tidak bisa dimiliki. Caranya sederhana, ciptakan batin kita menjadi bahagia. Caranya bermacam-macam, salah satunya dengan selalu memiliki rasa bersyukur.

Coba ya..hitung, anugerah yang sudah kita peroleh sejak lahir sampai sekarang. Kita diberi nikmat hidup, bentuk tubuh yang normal (kalo tidak mau dibilang indah), bernapas, diberi mata, diberi hidung, mulut, lidah, paru-paru, jantung, ginjal, hati, dan pikiran. Belum lagi di luar kita, kita memiliki orangtua, saudara dan kerabat, sahabat yang selalu mendukung, teman, kenalan, tetangga, dll. Allah SWT sudah memberikan segala kebutuhan kita di dunia ini lengkap dengan segala fasilitasnya. Apakah masih kurang segala sesuatu yang sudah diberikan kepada kita? Sepertinya kita memang kurang memiliki rasa bersyukur atas hal-hal di atas yang selama ini sudah menopang hidup kita. Cobalah kita syukuri satu per satu, maka hasilnya akan sangat luar biasa bahagia.

Ya Allah ...
Aku bersyukur hari ini masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Aku bersyukur hari ini masih bisa bernafas.
Aku bersyukur diberikan kesehatan, sehingga aku bisa menjalankan aktivitas sehari-hari.
Aku bersyukur atas segala nikmat yang sudah diberikan kepadaku baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Betapa banyaknya, dan aku tidak bisa menghitungnya.
Terimakasih Ya Allah, terimakasih alam, terimakasih anggota tubuhku

Ucapkan kata-kata di atas dalam suasana hening, penuh dengan perasaan, bayangkan semuanya memberikan ucapan selamat kepada Kita, menepuk-nepuk bahu Kita, bersalaman kepada Kita. Tuhan pun tersenyum melihat Kita penuh rasa syukur dan Dia berjanji akan menambah nikmat-nikmat yang lain walaupun tidak kita minta. Subhanallah....

Cara lain yang biasa saya lakukan adalah bangun malam untuk salat Tahajud dan kadangkala kalo tidak malas, tadarus Alquran. Ada satu perasaan bahagia yang tiada tara ketika membuka mata pada pukul 03.00. Sambil mengucapkan alhamdulillah saya bangun dengan penuh senyum dengan perasaan Allah juga senang melihat hambanya bangun pada dini hari.

Saya ambil air wudu, saya basuh satu per satu anggota rukun wudu sampai selesai. Saya ambil sajadah, kain sarung, dan baju sopan yang bersih. Allahu Akbar.... Kuucapkan kebesaran Allah Yang Maha Kuasa di keheningan malam. Lagi-lagi, Allah dan malaikatnya tersenyum lebar, gembira melihat hambanya bertafakur, berdoa, bermunajat, merendahkan diri, bersujud di depan Sang Pencipta. "Sesungguhnya salatku, hidup, dan matiku hanyalah milik Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu." Ayat demi ayat dilantunkan secara perlahan, benar-benar terasa nikmat dan lapang dada. Ketika saya ingat dosa-dosa saya tak terasa air mata pun berlinang, apakah Allah masih mau untuk memaafkan saya? Padahal dosa selama hidup baik yang terasa maupun yang tidak terasa jumlahnya sangat banyak. Saya pasrahkan kepada kebesaran Zat Yang Maha Pengampun, mudah-mudahan masih mau untuk mengampuni hamba yang zalim ini.

Saya benar-benar menikmati gerakan demi gerakan salat sampai salam. Lagi-lagi entah mengapa rasa bahagia tersebut seolah masuk ke dalam diri dan memeluk erat-erat seakan tidak mau terlepas dari batin dan tubuh saya. Setelah berdoa saya ambil HP untuk telp pada Ibu saya, membangunkan kedua adik saya, mengirimkan SMS pada sahabat-sahabat dan teman yang biasa qiamulail (salat di tengah malam secara teratur) atau kepada siapa saja yang sekiranya saya kenal. Siapa tahu dia terbangun dan menjalankan salat malam juga. Isinya kira-kira, "Assalamualaikum, Dengan segala kerendahan hati, marilah kita menyerahkan diri kepada Allah, Sang Maha Pencipta untuk salat malam." Ataupun
"Ikhlas adalah kunci utama meraih ridho Allah, sabar saat mendapat ujian dan syukur atas nikmat tak terhingga, Di akhir malam ini, mari bersujud kepada Allah “. Kemudian saya kembali berdzikir dan berdoa. Selesai dzikir ada beberapa yang membalas SMS tersebut. Muncul lagi perasaan bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan dengan sesama. Usai salat dilanjutkan dengan tadarus Alquran sampai datang waktu salat subuh, kalo tidak terserang kantuk.

Keesokan harinya rasa bahagia tersebut menjadi teman sampai sore hari bahkan sampai malam harinya lagi. Ketika berjalan seakan-akan alam menyapa dan senyuman dan lambaian. Semuanya tersenyum, semuanya melambai, semuanya mendukung. Kondisi seperti itu benar-benar memengaruhi kita ketika berkomunikasi dengan orang-orang. Terlihat penuh semangat, antusias, percaya diri, dan yang lebih penting muncul ketulusan dalam berbagai bentuk pembicaraan. Pekerjaan tidak terasa sebagai beban tapi terasa senang menjalankannya. Kebahagiaan internal benar-benar dapat mempengaruhi kondisi eksternal dan akhirnya bisa mencapai kebahagiaan eksternal. Sampai di sini saya dapat mengambil kesimpulan, apabila kita menggapai kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal dengan sendirinya dapat dicapai.

Memang untuk mencapai kebahagiaan eksternal berupa materi membutuhkan waktu. Sesuatu kalau ingin terwujud secara materi ada hukum-hukum tersendiri yang tidak bisa dilawan. Misalnya saja, kalau kita ingin berhasil sudah tentu kita harus ulet, rajin, konsisten, dan berusaha terus-menerus. Demikian juga kalau ingin mencapai yang kita inginkan, ada jeda waktu untuk mencapainya. Tapi, kalau kondisi kita berada dalam positive feeling, maka waktu tersebut tidak menjadi masalah asalkan bisa tercapai. Kita memiliki sikap sabar dan tawakal.

Passion, Power & Pride, seperti slogan sebuah Bank Swasta.



1 February 2008
Jakarta Banjir

Friday, January 4, 2008

Holidays...

I love holidays. But I never like the way the Government -here and elsewhere- assigns national holidays. The Coordinating Minister of Social Welfare announced, (you can see at www.menkokesra.go.id the national holidays and joint leave ('cuti bersama', red) days schedule for 2008.
dd
The total number of days is 23. That means Indonesians -i.e. government officials, some schools, and others who follow this instruction- will only work around 11 months (and usually get paid for 13 months worth of salary -- or more).

But that is not my main concern. My concern is two fold that follows:

First, the idea of giving a leave to an employee is, well, to give him a leave so he can forget about work for a while and instead get some pleasure and come back fully charged.

But when I get tired, you are not necessarily in the same position. Likewise, when I am in the mood for traveling, you might be in your peak productivity time. It makes sense for me to take my leave and get some rest. But it does not make sense to make you have to take your leave, too, the same time as I do. Because you might want/have to work or you just have set a plan to spend your holidays sometime else. The 'cuti bersama' policy thinks you and I are identical. And that's wrong. It forces you to reduce your vacation days, whether you like it or not.

Second, it is true that I want a holiday to observe my holy day -- I mean religious holy day. And I think it is fair if you have holiday to observe yours. But why a particular religious holy day is assigned as national holiday in the sense that both you and me and everybody else are supposed to observe it? I guess the reason is because assigning national stamp to an obviously not national thing, like religion (and ethnic), is always troublesome. For example: Why do you give six days to moslems but only one for buddhists? Why do you assign national holiday for imlek but not for Javanese new year, even though each have its own calendar? That is why, I think, the Government decides to make each particular non-national special day national -- as in 'jointly observed'. As a result, we have way too many holidays.

Alright you complainer, you ask me. What's your solution?

Here is an idea. Just give 20 days to employees each year for leave. Let them decide what and when they want to use them for: leisure, travel, celebrating Ied Days, Christmas, etc.

Only assign one national holiday: Independence Day --17 Agustus- (see, I can be nationalist, too!)

OK, when is my next holiday ??? Ohhh,...I can't answer till March.

Have a nice Weekend, Fren...

Tuesday, January 1, 2008

2008, optimis menuju yang lebih baik

Alhamdulillah, kita telah berada di tahun 2008. kembali kita diberi kesempatan memperbaiki diri. Tidak terasa begitu cepatnya kita melewati 2007, yang penuh anugerah, tantangan, dan juga onak dan duri.

Di tahun lalu, pasti ada waktu yang kita gunakan dengan baik ataupun hanya kita sia-siakan, berlalu begitu saja tanpa ada manfaat yang berarti, manusiawi dan wajar saya kira, namun alangkah bagusnya andaikata, di awal tahun ini kita perbaiki diri, optimis menuju yang lebih baik, sebuah slogan yang soft launchingnya telah terucap sejak Juni lalu, kita organize waktu kita dan hilangkan kesia-siaan.

Karena hal ini telah sesuai dengan firman Allah dalam Al Ashr(103) yang disebutkan
“ Demi Masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman,dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran “

Menurut saya inti dari Firman Allah SWT tersebut adalah bahwa semua manusia berda dalam keadaan merugi apabila dia tidak mengisi waktunya dengan perbuatan yang baik.

Kadangkala dengan segala kesadaran kita kita melakukan aktifitas-aktifitas tanpa manfaat yang berarti bagi akherat dan dunia kita. Kita telah mensia-siakan waktu. Padahal waktu berbicara kepada kita supaya bisa mengambil segala pelajaran dari waktu itu sendiri.

Salah satu ciri modernitas dicerminkan dengan sikap kita dalam menghargai waktu. Kesadaran ruang dan waktu mencerminkan derajat peradaban sebuah masyarakat. Itulah sebabnya, umat Islam meyakini bahwa agama mengajarkan nilai budaya yang sangat kondusif bagi kemajuan. Bayangkanlah, Wahyu Allah yang diturunkan pada abad ke tujuh itu telah berbicara soal kerugian bagi manusia yang tidak menghargai waktu. Tidak memanfaatkan segala kesempatan untuk beribadah dan mengerjakan amal saleh. Artinya juga bekerja, menuntut ilmu, dan ibadah dengan segala manifestasinya.

Tapiiii, look..kenapa ada kesenjangan antara ajaran yang diimani dnegan perilaku sehari-hari umat Islam, sepanjang menyangkut soal waktu ini. Padahal tatkala mengerjakan urusan keagamaan, seperti sholat misalnya. kita bisa tertib mengikuti waktu. karena sesuai hadist Rasulullah, sebaik-baik sholat adalah di awal waktu. maka Adzan di Masjid, di mushola pun memanggil jamaah untuk sholat di awal waktu. Sudahkah kita melaksanakannya ??

Apakah masyarakat sudah bisa diajak ber Demi Masa. bukankah kebudayaan molor dan lambat, lelet merupakan hal empirik yang ditegur dimana-mana. Di kantor, Di tempat klien, di Kafe, dan di lingkungan mana saja. Memang ada pengecualian dalam tepat waktu sepanjang menyangkut pulang dari tempat kerja. Namun lihatlahh apa yang mereka kerjakan dan irama kegiatan efektifnya selama di tempat kerja. Sebagian besar dari kita memang bener benar berada dalam kerugian yang teramat besar.

Waktu berjalan begitu cepatnya, waktu adalah segalanya, waktu bagai argo taksi digunakan ataupun tidak tetap saja berjalan. Waktu tidak bisa kita putar kembali ke detik sebelumnya, tidak bisa terulang lagi.

Tidak bermaksud menggurui ataupun sok tahu, hanya sekedar mengingatkan saja. Mari kita review ulang apa saja yang telah kita lakukan di tahun kemarin, manfaat apa saja yang bisa kita sumbangkan demi Allah dan Rasulnya, kebaikan bagi diri kita sendiri, keluarga yang kita cintai, agama yang selalu kita junjung tinggi, anak-anak yatim yang kurang mampu, orang-orang fakir miskin dan sebagainya. Sudahkah kita berbuat banyak, sudah cukupkah? Astaghfirullah, Subhanallah, saya sendiri merasa belum seberapa berbuat untuk mereka, belum sebanding dengan kenikmatan yang dianugerahkan Allah.

Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah anugerahkan segala kenikmatan selama ini, berkahilah apa yang telah diri ini dapatkan di tahun lalu dan seterusnya, Ridhoilah yang dicita-citakan untuk yang akan datang, Alhamdulillah Ya Allah Engkau berikan keluarga yang bahagia, yang selalu menasehati dan tanpa henti mensupport diri ini,

Ya Allah Yang Maha Pendengar, ampuni jika diri ini termasuk makhluk yang amat sombong dalam pandangan Mu, ampuni jikalau diri ini membesar-besarkan diri dan meremehkan keAgunganMu, ampuni jika diri ini sering mendustakan kebenaran Mu, ampuni jikalau diri ini kadangkala meremehkan agama Mu Ya Allah, Ampuni diri ini yang kadangkala menomorduakan panggilan Adzan, ampuni diri ini yang lebih sibuk dengan urusan dunia yang fana ini Ya Allah.

Ampuni jika diri ini Engaku saksikan enggan menerima nasehat, Ya Allah ampuni segala ketakaburan diri ini, ampuni jika diri ini sering meremehkan orang yang berkedudukan di samping Mu, Ampuni diri ini jika sering menghina dan merendahkan kaum dhuafa, anak yatim yang tidak mampu, Ampuni jika diri ini dengan segala ketakaburan diri, segala ujub yang ada di hati ini Ya Allah, Ya Allah Engkau Yang Maha Tahu.

Ya Allah gantikan segala kesombongan diri ini dengan ketawadhuan ya Allah, jangan biarkan diri ini menjadi makhluk sombong sekecil apapun, angkat derajat diri dengan hati yang selalu rendah hati, jauhkan diri ini dengan segala sifat riya', pamer ya Allah, jauhkan diri ini dari sifat bermegah megahan dunia, bermewah-mewahan dalam hidup. Golongkan diri ini menjadi orang yang selalu nikmat qonaah dan bersahaja.

Ya Allah, jauhkanlah diri ini dari sifat pamer amal kebaikan, berikan diri ini untuk menjadi orang yang berhati tulus, beerhati ikhlas, Ya Allah jauhkanlah dari perbuatan dzalim kepada siapapun sekecil apapun, cegahlah dari perbuatan maksiat, jauhkanlah dari perbuatan dan tipu daya iblis, tanpa ridho dan rahmat Mu Ya Allah, tidak mampu diri ini menghadapi semuanya. Indahkanlah dengan kehidupan yang selalu rindu membahagiakan untuk menolong sesama, berbuat baik kepada hamba Mu yang laen.

Ya Allah Yang Maha Pendengar, diri ini hanya mau berhasil dalam hidup, ingin bisa pulang kepada Mu dengan bekal amalan yang mencukupi, ingin menjadi penghuni Surga, ingin berjumpa dengan Rasulullah kesayangan Mu,

Kapanpun kehidupan ini berakhir, beri kesempatan untuk memperbaiki diri, beri kesempatan untuk membawa bekal amalan, pulang menghadap Mu, jangan biarkan kehidupan dunia dengan segala assesoris ini menipu Ya Allah,

Ya Allah jadikanlah hari-hari depan, diri ini menjadi manusia yang lebih baik, mempertinggi akhlak, menjaga taqwa, memperrajin ibadah wajib dan sunah, tambah bakti kepada kedua orangtua, memperbanyak sedekah, menjaga tali silaturahmi terhadap sesama makhluk Mu, hari-hari yang penuh penantian, tuntun agar bisa mempersembahkan yang terbaik dari hidup ini. Perkenankan, ridhoi dan kabulkan permohonan ini Ya Allah, Amien

Thursday, December 27, 2007

Nikmatnya berkeluh kesah

“Ya minta aja ama ALLAH, .... emang di tangan Tuhan, kalo gak diambil sendiri ya tetep di tangan Tuhan terus.....bla,bla,,bla”



Beberapa waktu yang lalu saya mendapat sms dari seorang sahabat baik, agak bernada jengkel dan mangkel mungkin dengan kelakuan saya ini, mungkin lho ya.

Mungkinkah manusia sama sekali tidak berkeluh kesah ? Tidak mungkin. Karena tidak ada hidup tanpa masalah. Dan yang pasti tidak ada hidup yang selalu berjalan sesuai keinginan.

Masalahnya adalah, kapan saatnya dan kepada siapa kita layak berkeluh kesah ?
Kadang kita melampiaskan keluh kesah semaunya, dan saya pikir itu tidak boleh. jika kita sadar terhadap kedhaifan dan kelemahan kita sendiri di hadapan kekuasaan Allah SWT, kita pasti mengetahui bahwa Allah sajalah yang bisa menjadi tempat berkeluh kesah.

Berkeluh kesah kepada sesama manusia apalagi mengeluarkan kalimat-kalimat kutukan pada diri sendiri dan menyalahkan Allah SWT

Kita adalah manusia yang serba terbatas, serba kurang, serba tidak mampu. Rasa dhaif dan lemah itulah yang mengantarkan kita untuk bermunajat, mengadu, mengungkapkan keluh kesah pada Allah dalam doa.

Pengaduan dan munajat kepada Allah atase berbagai masalah adalah kebiasaan para Nabi. Dalam salah satu doa Nabi Yaqub, “Sesungguhnya hanyalah pada Allah aku mengadukann kesusahan dan kesedihanku dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”.

Begitu juga yang terjadi dengan Rasulullah, saat dilempari batu dan diusir oleh penduduk Quraisy, saat perang Badar dan banyak moment penting dalam perjuangannya. Rasulullah selalu mengembalikan semuanya kepada Allah SWT. Dengan demikian, jiwanya menjadi tenang dan sikap-sikap menjadi lebih terarah.

Semuanya berasal dari Allah, maka minta dari Allah penyelesaiannya. Sampaikan keluh kesah hidup ini kepada Yang Menciptaktakannya. Yakinlah bahwa segala usaha untuk menyelesaikan masalah yang tidak kita inginkan tidak akan berhasil tanpa izin Allah.

Menyampaikan keluh kesah hanya kepada Allah harus diiringi dengan sikap menahan keinginan-keinginan terhadap sesuatu. Ini juga termasuk masalah yang penting. Karena kekecewaan lahir dari seseorang yang tidak dapat menahan hati dari keinginan yang tidak tercapai. Jika segala masalah disikapi secara bijaksana, ia bisa saja membawa kita pada kebaikan. Tapi jika sebaliknya, ia akan membawa kita pada keburukan yang lebih dalam. Jadi menurut saya tidak selamanya duka cita membawa penderitaan.


Allah selalu menyediakan banyak sekali hikmah dan manfaat dari peristiwa yang kita anggap tidak sesuai dengan keinginan kita. Diantaranya adalah kekecewaan, kepahitan, kesulitan, duka cita memang harus ada dalam roda kehidupan kita.


Terakhir, Bahwa Duka cita itu penting untuk memahami kenyataan, yaitu kenyataan bahwa kita punya Allah, dan kita jadi sadar bahwa kita jadi semakin membutuhkan Nya dalam hidup ini.

Bagi para pembaca yang keinginan dan cita-cita tahun ini belum terselesaikan, berjuang dan berdoalah. Keyakinan diri bahwa kita mampu menggapainya sangat pengaruh bagi mental dan emosional kita. Jangan sedih...

Wednesday, December 19, 2007

Mari ber Qurban

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadanya nikmat yang banyak, Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu, dan Berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus."


Esensi kurban bukanlah menyembelih hewan setahun sekali, namun ketaatan penuh atas seluruh perintah Allah SWT. Berikan kepada-Nya yang terbaik, sebab sesungguhnya Sang Maha Pemilik tidak membutuhkan apa pun dari kita. Kitalah yang selalu yang membutuhkan-Nya. Allah menguji keimanan kita seperti menguji keimanan Ibrahim dengan memerintahkan menyembelih Ismail AS. Allah tidak membutuhkan darah dan dagingnya. Dia sekadar menguji keimanan Ibrahim AS dengan perintah yang berat itu.

Filosofi ini berlaku hingga hari ini. Di saat kebutuhan ekonomi masyarakat semakin materialistis, Allah menguji kita untuk berkurban. Tentu akan terasa berat bagi yang mementingkan urusan dunia. Namun akan menjadi ringan saat kita taat kepada-Nya. Motivasi lainnya dengan kurban kita akan berbagi dengan masyarakat dhuafa di pedalaman dan korban bencana. Insya Allah terwujud nilai silaturahim yang luar biasa.

Bagi para pembaca yang ingin kurban Sapi/Kambing dengan membeli langsung silakan, banyak tempat untuk membeli di sekitar kita.

Bagi para pembaca yang ingin gampang, ikuti beberapa program yang ada, misalnya :

1. Qurban by Request oleh Al Azhar Peduli.
Harga Kambing Rp. 745.000,00
Harga Sapi Rp 5.650.000,00

Info lebih lanjut Phone to : 021 7221504

2. Tebar Hewan Kurban, Kurban Tanpa Batas oleh Dompet Dhuafa
Harga Kambing Rp 755.000,00
Harga Sapi Rp 5.755.000,00

Hubungi ke Kurban tanpa Batas Hotline 021-721 10 35

3. QURBANKU untuk korban bencana
Harga Kambing Rp 775.000,00
Harga Sapi Rp 5.750.000,00

hubungi ACT 021-7414482 Aksi Cepat Tanggap

Semoga kita termasuk orang-orang yang bertaqwa.
Amien...Mari Ber Qurban.

Tuesday, December 18, 2007

Pacaran is Sunk Cost

I have just discussed with my friend, Riecky, that the guy who was left by his girlfriend after what he did (he said he had done everything -- presumably good things in his view) was just not good enough for the girl. Well, if I were my student, I would have given that answer a B-minus. A better answer is: because the costs incurred during dating or pacaran are sunk.

Again, dating is a two-to-tango game. So, when the guy said he had given everything, chances are she had given everything, too. When they both were giving each other, they incurred both costs and benefits -- of which I do not want to dwell into details.

In the story (Samuel Mulia, my apologies, I'm using your article here again -- by the way, keep up good writing), one person is left out: the girl. The decision that is relevant to see why "she left me after all what I had done" is the girl's decision to leave him, not the guy's fate to be left alone. That is, what matters is what probably triggered the girl to leave. So let's focus on her.

In the period of dating, the girl incurred costs: makeups, fancy skirts, perfumes, even the effort to walk and talk "like a lady". All this she did to attract and later, to keep that lucky guy with her. Right before she did every single item above, she had an expectation: All these I would do because I expect him to give me this or that, in return. But once the activities were done (e.g. once the fancy skirt was bought), they all became sunk costs: they were not recoverable (well, she might go to second hand market selling the used skirt, but hey, she is a lady).

Fast forward. There was a quarrel between the two lovebirds. The girl was now at the margin of decision: leave or stay (or, if you don't like these terms, use: leave him or keep him). What would you think she had in mind, as factors affecting her decision? Yes the costs and benefits of leaving him. She would leave him if the resulting benefits (relief, chances to get a new guy, etc) exceeded the costs (effort to make him go and to make up good, convincing story to friends, etc). But the costs incurred during pacaran were not relevant anymore.

(If this is not convincing, try picture you are about to go mudik. You are thinking of driving your car or simply take the train. The amount of money you used when you bought the car is not relevant to your decision).

So, ladies, next time a jerk begs you to not leave him, using "Please don't go, Honey. Remember what I have given you all this time?" Tell him: "Baby, it's all sunk. Now shut up".

So lets Taaruf.....

Thursday, December 6, 2007

Some perspective

A guy wearing Harvard t-shirt is enjoying a cup of coffee in a coffee shop in a mall with his 2-month old baby girl. The mom's shopping somewhere upstairs; but she could also be shopping somewhere in Orchard Road, no one can presume. Which kind of signaling do you think happened?

A. From the guy's perspective:

I'm straight, don't bother to approach (if we're talking about Blok M plaza, this is very relevant. Not that there's anything wrong with not being straight)

I'm happily married, don't bother to approach.

Look at me, I'm a perfect husband and dad. Aren't I interesting?

Look at me, my wife told me to stay here while she's shopping, and I do what she said...

B. From the baby's perspective:

Look at my dad. He went to Harvard, so I'll go there under the legacy admission.

Look at my dad. He went to Harvard. He must be rich and so must I (am I?).

Look at my dad. He went to Harvard. Don't bother approach me if you're not that smart.


By the way, my dad went to Harvard under scholarships, so he's not that rich. That's why we only go to this mall.


C. From the wife's perspective:

My husband's not available. Our baby is the territorialmarking.

I have a submissive husband. He'd like to sit our baby while I'm shopping.

Any other ideas...?